
JAKARTA – Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkaji relokasi penduduk Gaza ke Indonesia. Seperti diketahui, gencatan senjata di Gaza sudah berlaku.
Utusan Presiden Terpilih Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff mempertimbangkan kunjungan ke Jalur Gaza untuk meningkatkan perdamaian. Witkoff berencana untuk terus hadir di wilayah tersebut selama beberapa minggu.
Fase pertama diperkirakan berlangsung sekitar enam minggu dan melibatkan pembebasan sandera oleh Hamas dan tahanan Palestina oleh Israel. Fase kedua akan dinegosiasikan selama fase pertama dan diharapkan menghasilkan pembebasan tambahan sandera dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Tujuan fase terakhir, yang juga masih perlu dinegosiasikan, adalah mengakhiri perang dan memulai pembangunan kembali Gaza.
Kekhawatiran utama bagi Witkoff saat ini adalah insiden yang mungkin dipicu oleh interaksi sehari-hari antara Israel dan Palestina di sekitar Gaza, meskipun ada perjanjian gencatan senjata.
“Ingat, ada banyak orang, radikal, fanatik, tidak hanya dari sisi Hamas, dari sayap kanan Israel, yang sangat termotivasi untuk menghancurkan seluruh kesepakatan ini,” katanya seperti dikutip dari CNBC, Senin (20/1/2025).
Sementara mengelola fase saat ini dari kesepakatan dan merundingkan yang berikutnya, tim Trump juga berusaha menemukan solusi jangka panjang.
“Jika kita tidak membantu warga Gaza, jika kita tidak membuat hidup mereka lebih baik, jika kita tidak memberi mereka harapan, akan ada pemberontakan,” tuturnya.
Pertanyaan tentang bagaimana membangun kembali Gaza dan di mana sekitar 2 juta warga Palestina dapat dipindahkan sementara juga masih menjadi perdebatan. Indonesia, misalnya, sedang dibahas sebagai salah satu lokasi di mana beberapa dari mereka bisa pergi, kata pejabat transisi itu.
Namun, ide relokasi sangat kontroversial di kalangan warga Palestina dan Arab lainnya, karena banyak yang percaya bahwa relokasi akan menjadi langkah pertama dalam memaksa mereka meninggalkan tanah mereka oleh Israel.
Masalah memasukkan bantuan ke Gaza yang diperlukan dalam fase pertama kesepakatan gencatan senjata tetap menjadi tantangan. Israel khawatir bahwa Hamas akan mengambil sebagian dari bantuan yang masuk ke Gaza, sementara krisis kemanusiaan di sana semakin memburuk dengan kelaparan dan penyakit yang merajalela.




