JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tidak setuju dengan hasil Badan Pusat Statistik DKI yang mencatat jumlah penduduk miskin di Jakarta naik sebesar 0,14 persen atau bertambah 15.630 orang.
Ahok menilai Survei BPS mencampurkan data pendatang dengan penduduk asli Jakarta. “Saya tidak setuju konsep survei BPS seperti itu. Saya sempat ngomong gitu lho. Katanya, ‘jadi memang begitu pak, jadi semua orang yang ketemu di Jakarta itu dinilai,” ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (19/7/2016).
Menurutnya survei harus terfokus kepada warga yang ber-KTP DKI, dan tidak memasukkan warga pendatang ke dalam klasifikasi. Karena banyak warga daerah datang ke Jakarta untuk meningkatkan taraf hidup.
“Sekarang semua orang suka tinggal di Jakarta. Naik bus murah, kesehatan ditanggung, nah itu juga masalah. Kita tidak bisa nahan orang pindah, itu bukan KTP DKI,” kata Ahok, seperti dilansir Tribunnews.
diberitakan sebelumnya, data BPS mencatat, jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta mengalami peningkatan 0,14 persen atau bertambah berkisar 15.630 orang. Diketahui jumlah penduduk miskin pada September 2015 mencapai 368.670 orang atau 3,61 persen dari total jumlah penduduk di DKI Jakarta.
Sedangkan pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 384.300 orang atau 3,75 persen. Artinya ada peningkatan sebesar 15.630 orang atau meningkat 0,14 poin.





