5 Alumni Sukses Beasiswa Dompet Dhuafa, Jadi Rektor hingga Dosen

Heri Hermansyah - Rektor UI (Foto: Dompet Dhuafa)

JAKARTA, KBKNews.id – Dompet Dhuafa peduli dengan pendidikan anak-anak Indonesia. Sejumlah penerima beasiswa Dompet Dhuafa berhasil meraih cita-citanya.

Beasiswa Dompet Dhuafa awalnya diberikan berupa pembayaran uang sekolah bagi siswa yang kesulitan finansial. Seiring berjalannya waktu, bantuan pendidikan tidak hanya uang tunai tapi juga program pembelajaran hingga sekolah gratis.

Berikut ini lima sosok penerima beasiswa Dompet Dhuafa yang sukses di bidangnya seperti dirangkum KBKNews.id, Rabu (21/5/2025):

1. Heri Hermansyah – Rektor UI

Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU resmi menjabat sebagai Rektor Universitas Indonesia (UI) periode 2024-2029 sejak 4 Desember 2024. Dia merupakan salah satu penerima beasiswa Dompet Dhuafa pada 1997.

Sebelum menjadi rektor, Heri juga pernah menjadi guru besar termuda Fakultas Teknik (FT) UI pada 2014 saat umurnya 37 tahun.

Berasal dari keluarga yang sederhana, Heri harus berjibaku saat kuliah lantaran tidak dapat sepenuhnya membiayai kuliah strata satu (S1) di UI. Hingga pada tahun ketiga kuliah pada 1997, Heri mendapatkan beasiswa dari Dompet Dhuafa. Ia mendapatkan bantuan biaya bulanan hingga lulus.

2. Koko Iwan Agus Kurniawan – Dosen Unpad

Koko Iwan Agus Kurniawan – Dosen Unpad (Foto: Dompet Dhuafa)

Koko Iwan Agus Kurniawan Ph,D merupakan salah satu alumni program beasiswa Dompet Dhuafa yang berhasil meraih cita-citanya. Dia kini mengabdikan diri menjadi dosen di Universitas Padjajaran (Unpad).

Dia menerima Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) Scholarship Batch 5 pada 2015-2017. Koko menyelesaikan S-1 di Unpad dan lulus pada 2016. Kemudian dia melanjutkan S-2 di Thailand, serta S-3 di Jepang.

3. Mustarakh Gelfi – Dosen Itera

Mustarakh Gelfi-Dosen ITB (Foto: Dompet Dhuafa)

Dr. Eng. Mustarakh Gelfi, S.T., M.Sc merupakan alumni angkatan kedua SMART Ekselensia Indonesia. Dia kini menjadi dosen di Institut Teknologi Sumatra (Itera).

SMART Ekselensia adalah sekolah unggulan dari yang didirikan Dompet Dhuafa untuk anak-anak yang terpilih.

Selama di SMART, Mustarakh berusaha menyeimbangkan pencapaian akademik dan non-akademik. Dia pernah memimpin Organisasi Akademika SMART Ekselensia (OASE) sambil menghadapi Ujian Nasional SMP. Meski kabinet OASE saat itu terdiri dari kakak-kakak kelas dan sistem periodisasinya belum matang, dia berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Nilai Ujian Nasional-nya juga termasuk salah satu yang terbaik di angkatannya.

Mustarakh diterima di ITB pada 2010 setelah lima tahun menempuh pendidikan di SMART. Dia kemudian melanjutkan S-2 di Hydraulic Engineering, Delft University of Technology, Belanda (2015–2017). Gelar S-3 diterima dari Yokohama National University, Jepang (2020–2023).

4. Amma Muliya Romadoni – Dosen Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Amma Muliya – Dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Foto: Ist)

Amma Muliya ST, M.Sc merupakan dosen di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta. Dia juga alumni dari SMART Ekselensia.

Amma melanjutkan S-1 di Universitas Sumatera Utara (USU). Salah satu prestasinya selama mahasiswa yakni mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional, Shell Eco-marathon Asia 2014, dalam kompetisi mobil hemat energi.

Prestasinya tersebut mengangtarkan Amma untuk mendapatkan beasiswa LPDP untuk program S-2 di ITB. Saat ini, dia juga menjadi salah satu pendiri start-up berbasis energi bernama Solar Control.

5. Hamdani Maulana – Dosen UGM

Hamdani Maulana – Dosen UGM (Foto: Ist)

Ir. Hamdani Maulana, S.Pt., M.Sc, IPP – Fapet UGM, akrab dipanggil Hamem, merupakan pemuda asal Kalimantan Timur. Dosen Universitas Gadjah Mada ini memulai perjalanan sebagai murid berprestasi melalui program SMART Ekselensia Indonesia.

Usai lulus dari SMART Ekselensia, dia berhasil menembus SNMPTN Undangan dan melanjutkan studinya di Fakultas Peternakan UGM.

Selama 4 tahun 10 bulan di UGM, Hamem tidak hanya menikmati perkuliahan di bidang peternakan, tetapi juga aktif terlibat sebagai asisten di Laboratorium Ternak Potong. Pada tahun ketiga kuliahnya, ia bahkan terlibat dalam penelitian Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA) di PTPN V Riau, bersama Prof. Endang Baliarti.

Tidak puas dengan pencapaian tersebut, Hamem melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2 pada Agustus 2017. Di sinilah dia menggali ilmu lebih dalam tentang bidang yang dicintainya

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here