Israel buka front lagi di Suriah

Kantor Menhan Suriah di Damaskus dibom Israel. Israel menyerang Damaskus Selasa (15/7) dalam upaya membantu minoritas Druz yang diserang pasukan pemerintah Suriah (ilustrasi: shutterstock)

PEPATAH “Satu musuh terlalu banyak,seribu kawan terlalu sedikit” agaknya tidak berlaku bagi Israel, karena dalam satu saat, negara Yahudi itu berperang dengan banyak pihak.

Israel seperti dilansir Reuters, melancarkan serangan udara ke Damaskus, Suriah, Rabu (16/7). Motifnya disebut untuk melindungi suku Druze yang tengah bentrok dengan suku Badui hingga memicu campur tangan pasukan pemerintah Suriah.

Serangan udara Israel tersebut dilaporkan mennghancurkan sebagian gedung kementerian pertahanan Suriah dan menghantam lokasi dekat istana presiden di pusat ibu kota, Damaskus.

Serangan ini sekaligus menandai eskalasi signifikan Israel terhadap Suriah yang sementara ini dipimpin kelompok islamis.

Suku Druze menurut Encyclopedia Britannica, adalah kelompok minoritas keagamaan di Timur Tengah di Lebanon, Suriah dan Israel yang populasinya  pada awal Abad ke-21 mencapai lebih satu juta orang.

Mereka menyebut dirinya muwaḥḥidūn (unitarian) dan berbicara dalam bahasa Arab, di mana sebelumnya kelompok keagamaan Druze berasal dari Mesir yang merupakan cabang Syiah Ismailiyah.

Di era Khalifah Fatimiyah keenam, Al-Hakim bi-Amrillah yang memerintah pada 996-1021 Masehi, beberapa teolog Ismailiyah mengorganisir sebuah gerakan yang menyatakan al-Hakim sebagai sosok ilahi.

Gerakan yang dilancarkan secara terbuka pada 1017 yang menyebabkan kerusuhan di Kairo, dan gagasan tersebut dikutuk oleh lembaga keagamaan Fatimiyah yang menyatakan al-Hakim dan pendahulunya memang diangkat oleh Tuhan tetapi mereka bukan ilahi.

Serangan Israel juga dilaporkan menghantam kota Sweida di selatan Suriah, yang mayoritas penduduknya adalah warga Druze, serta daerah-daerah dekat perbatasan Yordania.

Israel berdalih, serangan bertujuan untuk melindungi Warga Druze akibat naiknya ketegangan di Sweida dalam beberapa hari terakhir setelah bentrokan antara milisi Druze dan suku Badui yang dipicu oleh aksi penculikan dan serangan balasan.

Ketika pasukan pemerintah turun tangan, justru terjadi bentrokan langsung antara militer Suriah dan kelompok Druze, bahkan disebut-sebut ada warga sipil yang ikut menjadi korban.

Sekutu Israel

Israel menganggap komunitas Druze sebagai sekutu potensial dan menyatakan bahwa operasi militer ini bertujuan melindungi mereka dari ancaman pasukan pro-pemerintah.

“Ini adalah eskalasi yang signifikan,” ujar Zeina Khodr. “Pesan dari kepemimpinan Israel sangat jelas; mereka akan terus meningkatkan serangan jika pasukan pemerintah Suriah tidak mundur dari wilayah selatan,” imbuhnya.

Pemerintah Suriah mengecam keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai “eskalasi berbahaya” dan bagian dari kebijakan Israel yang ingin mengguncang stabilitas wilayah.

“Israel mengejar kebijakan yang sengaja memanaskan situasi, menyebarkan kekacauan, dan melemahkan keamanan Suriah,” bunyi pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Suriah.

Pemerintah Suriah mengumumkan penarikan pasukan militernya dari kota Sweida pada Selasa (16/7), menyusul gelombang serangan udara Israel di ibu kota Damaskus dan desakan AS agar pasukan pemerintah mundur dari wilayah yang mayoritas dihuni komunitas Druze tersebut.

Dalam pernyataan Kementerian Pertahanan Suriah, pasukan militer telah mulai meninggalkan Sweida sebagai bagian dari kesepakatan terbaru yang disepakati bersama pemimpin komunitas Druze.

“Penarikan dilakukan setelah operasi penyisiran kota dari kelompok bersenjata ilegal,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Meski demikian, pemerintah tidak menyebut apakah aparat keamanan lainnya juga akan ikut ditarik mundur.

Sebelumnya, pada 15 Juli, pasukan tambahan diterjunkan dengan alasan memantau gencatan senjata yang disepakati setelah pertempuran sengit dengan kelompok suku Badui lokal.

Namun, saksi mata melaporkan pasukan pemerintah justru ikut menyerang warga Druze dan pejuang lokal dalam serangan balasan yang menewaskan puluhan orang.

Menghalau pasukan Suriah

Sementara itu, Israel mengeklaim serangan udara di Sweida untuk “melindungi komunitas Druze”, meskipun sejumlah pengamat menilai langkah itu lebih bertujuan menghalau pasukan rezim Suriah agar tidak mendekat ke perbatasan wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan.

Konflik militer Israel dengan milisi Hamas belum selesai sejak serangan mendadak milisi Palestina itu ke Israel Selatan 7 Okt. 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 240 warganya, lalu dibalas sehari kemudian dengan membombardir Gaza sampai hari ini yang diperkirakan menewaskan 58.500 warga Palestina dan melukai 139.000 lainnya.

Israel juga terlibat konflik militer masif dengan Iran, musuh bebuyutannya pada 13 sampai 24 Juni yang sebelumnya juga sudah saling serang dan terlibat dalam sejumlah insiden militer. .

Prakarsa damai yang dilakukan Presiden AS Donald Trump untuk sementara berhasil memaksa keduanya yang masing-masing mengeklaim kemenangan untuk menghentikan konflik.

Negara Yahudi itu juga terlibat konflik bersenjata diwarnai insiden berskala lebih kecil dengan milisi Hizbullah proksi Iran bermarkas di Lebanon, dan milisi Houthi, juga binaan Iran  di Yaman.

Timur Tengah seakan-akan sudah akrab dengan konflik, dari satu konflik meloncat ke konflik lain, smbung menyambung, entah sampai kapan? (Reuters/BBC/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here