Saudaraku, setiap kali dalam diriku menyelinap bara kecil rasisme—yang kadang datang diam-diam, disulut luka sejarah atau letupan emosi primordial—satu wajah segera membayang, bagai embun yang mendinginkan tanah kering: Kwik Kian Gie. Maka padamlah bara itu, sebelum sempat menjalar.
Sebab bagaimana mungkin aku membenci darah yang berbeda, jika dari darah yang berbeda itu tumbuh cinta yang lebih murni bagi Indonesia?
Kwik adalah saksi hidup, bahwa kemanusiaan tak mengenal garis keturunan, dan kebangsaan tak tunduk pada warna kulit. Ia lahir dari rahim minoritas, tapi jiwanya menyatu sepenuhnya dengan denyut Ibu Pertiwi. Tanah ini ia cintai bukan karena diwariskan, melainkan disyukuri. Ia merasa berhutang pada udara yang dihirup, pada air yang mengalir, pada tanah yang menopang. Dan dari rasa syukur itulah tumbuh panggilan untuk menjaga, bukan merusak.
Di zaman ketika banyak yang mengaku “asli”, tapi menggadaikan negeri ini tanpa malu—Kwik berdiri tegak sebagai “anak angkat” yang justru menjaga pusaka ini sepenuh hati. Ia tidak korup, tak pernah menjual harga diri bangsa demi kepentingan sendiri. Ia menapaki lorong kekuasaan dengan kaki bersih, dengan tangan tak berlumur.
Ia tak mendandani kepalsuan dengan retorika nasionalisme. Tak berselimut jargon. Tapi seluruh hidupnya adalah narasi tentang cinta tanah air yang sunyi, jujur, dan tak bersyarat.
Ia berani bersuara, bahkan saat suara itu tak disenangi oligarki. Ia bicara demi bangsa, bukan demi posisi. Ia menulis jernih, menganalisis tajam, dan mengingatkan dengan kasih.
Kini ia telah pergi, seperti cahaya yang pelan-pelan padam di ujung senja. Tapi jejaknya tetap tinggal, menjadi nyala kecil di hati setiap anak bangsa yang percaya: bahwa Indonesia masih mungkin dijaga, jika ada cukup orang baik yang bersedia mencintai tanpa pamrih.
Selamat jalan, Pak Kwik. Engkau telah menunjukkan bahwa menjadi Indonesia bukanlah perkara asal-usul, melainkan soal kesetiaan dan pengabdian. Engkau bukan hanya milik satu etnis. Engkau milik bangsa. Engkau milik kami semua yang masih percaya pada kebaikan, dan pada tanah air yang layak diperjuangkan.



