
PUNAHNYA Neanderthal atau species kerabat manusia modern di Eropa 40.000 tahun lalu ternyata disebabkan kawin silang dengan manusia modern (homo sapiens), bukan akibat kekerasan, parasit, patogen atau kegagalan beradaptasi dengan iklim.
Semula Hipotesis tentang penyebab kepunahan Neanderthal, ungkap Jurnal Nature dlansir Kompas.com (18/8) a.l akibat kekerasan ekstrim oleh manusia modern, parasit dan patogen, penguncilan, perkawinan dengan populasi awal manusia modern, dan kegagalan beradaptasi dengan perubahan iklim.
Masa tersebut, didasarkan pada penelitian yang dipublikasikan di Nature pada 2014, jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya, dan ditetapkan melalui metode penanggalan radio karbon yang telah diperbaiki dengan menganalisis 40 situs dari Spanyol sampai Rusia.
Survei tidak mencakup situs-situs di Asia, di mana Neanderthal bisa saja bertahan lebih lama. Pada Oktober 2015, studi menunjukkan Neanderthal bisa saja bertahan lebih lama lagi, hingga sebaru 24,000 tahun yang lalu.
Perkawinan silang antara Neanderthal dan manusia modern terjadi di Asia barat sekitar 50.000 sampai 60.000 tahun yang lalu, seperti dibuktikan oleh 1 sampai 4 persen bahan genetik yang dibawa oleh orang-orang non-Afrika yang hidup sekarang.
Mustahil bahwa salah satu dari hipotesis ini dapat berdiri sendiri, sebaliknya, beberapa faktor mungkin berkontribusi terhadap kepunahan populasi yang sudah tersebar luas ini.
Persaingan dengan Homo Sapiens
Selama puluhan tahun, ilmuwan menduga penyebab kepunahan Neanderthal adalah persaingan dengan Homo sapiens atau perubahan iklim ekstrem.
Namun, penelitian terbaru justru menghadirkan jawaban mengejutkan: bukan konflik, bukan bencana alam, melainkan hubungan intim dengan manusia modern.
Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal PaleoAnthropology oleh Chris Stringer dan Lucile Crété dari Natural History Museum, London, mengungkap bahwa kepunahan Neanderthal kemungkinan besar disebabkan oleh interbreeding—perkawinan silang dengan Homo sapiens.
“Perilaku ini bisa saja menyebabkan kepunahan Neanderthal jika mereka secara rutin kawin dengan Homo sapiens karena hal itu dapat mengikis populasi mereka hingga akhirnya lenyap,” jelas Stringer.
Alih-alih kalah bersaing atau mati kedinginan, Neanderthal justru perlahan “terserap” ke dalam populasi manusia modern melalui hubungan seksual lintas spesies.
Dari 32 genom Neanderthal yang berhasil disekuens penuh, para ilmuwan menemukan bukti kuat adanya kawin silang, terutama sekitar 50.000–60.000 tahun lalu.
Saat itu, Homo sapiens sedang memperluas wilayah mereka ke Eropa dan Asia. Hasilnya? Hampir semua manusia modern saat ini masih membawa sekitar 2% DNA Neanderthal.
Itu berarti, jejak “hubungan intim” nenek moyang kita masih melekat pada diri kita hingga hari ini. Namun, menariknya, sisa-sisa Neanderthal di periode akhir tidak menunjukkan adanya DNA inti Homo Sapiens.
Batasan hibridisasi
Para ahli menduga adanya “batasan hibridisasi”. Misalnya, kemungkinan besar perkawinan silang yang berhasil hanya terjadi antara pria Neanderthal dan perempuan Homo sapiens.
Sementara itu, keturunan laki-laki dari hubungan tersebut mungkin mengalami masalah kesuburan, sehingga menurunkan angka kelahiran alami pada populasi Neanderthal.
Sebelumnya, diyakini bahwa Homo sapiens baru tiba di Eropa sekitar 40.000 tahun lalu. Tapi penemuan fosil di Apidima (Yunani), Zlatý k?? (Ceko), dan Bacho Kiro (Bulgaria) menunjukkan kehadiran manusia modern sudah ada lebih dari 200.000 tahun lalu.
Artinya, kontak antara Homo sapiens dan Neanderthal terjadi jauh lebih awal dan lebih sering dari yang dibayangkan.
Dalam periode panjang itu, interaksi termasuk percampuran genetik tampaknya berulang kali terjadi. “Kami kini tahu dari data genetik yang semakin banyak bahwa koeksistensi ini disertai dengan kawin silang berulang,” tulis para peneliti.
Diserap Manusia Modern
Hasil penelitian juga menduga, penyerapan individu Neanderthal ke dalam kelompok Homo sapiens bisa jadi menjadi salah satu faktor utama punahnya Neanderthal.”
Selain aktor biologis, ada kemungkinan perbedaan komunikasi ikut membentuk interaksi kedua spesies ini.
Neanderthal memiliki alis tebal menonjol yang mungkin digunakan dalam komunikasi non-verbal. Sementara Homo sapiens memiliki alis lebih rata dan ekspresi wajah lebih beragam.
Perbedaan anatomi juga terlihat pada saluran suara dan ekspresi gen—sekitar 600 gen terkait wajah dan suara berbeda antara kedua spesies. Hal ini bisa jadi membuat komunikasi verbal mereka terbatas.
Meski begitu, kontak seksual tetap terjadi. Stringer menambahkan, apakah hubungan itu berupa “suka sama suka” yang bersahabat atau bentuk interaksi yang lebih agresif, masih menjadi pertanyaan terbuka.
Studi pada simpanse, misalnya, menunjukkan bahwa kedua skenario bisa saja terjadi dalam pertemuan antar kelompok.
Cerita punahnya Neanderthal tampaknya bukan kisah tentang peperangan atau keganasan iklim. Sebaliknya, mereka perlahan hilang karena terlalu dekat dengan Homo sapiens—hingga akhirnya terserap dalam gen manusia modern.
Mungkin inilah ironi sejarah: Neanderthal tidak mati karena kalah, melainkan karena cinta, atau setidaknya, karena seks lintas spesies yang membuat identitas genetik mereka larut dalam diri kita. (Nature/Kompas.com/ns)




