Dua bersaudara ini sama-sama orang penting di negeri ini. Mereka adalah Yahya Cholil Staquf dan adiknya, Yaqut Cholil Qoumas. Keduanya merupakan anak dari ulama Rembang, Jawa Tengah, almarhum KH Cholil Bisri yang merupakan kakak dari ulama KH Mustofa Bisri.
Lantaran anak kiai, mereka akrab dipanggil dengan sebutan ‘Gus’ di depan namanya.
Sang kakak, Yahya Cholil Staquf, saat ini menjabat ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Ia pernah pula menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid.
Sekalipun besar di lingkungan pesantren, Yahya memilih untuk meneruskan jenjang pendidikan tinggi di program studi sosiologi FISIPOL Universitas Gajah Mada (UGM). Akan tetapi, Yahya hanya sampai tingkat akhir dan tidak sempat menyelesaaikan kuliahnya. Hal itu pula yang membuat guru besar hubungan internasional UGM, Mochtar Mas’oed, menyebut, bahwa Yahya Staquf memiliki nasab (keturunan) yang baik tetapi tidak bernasib baik karena tidak lulus kuliah.
Tatkala dia terpilih sebagai ketua umum PB NU dan UGM kemudian mengundangnya menjadi pembicara di suatu acara, Yahya membalas candaan Moechtar Mas’oed. Yahya mengatakan, kini tidak hanya nasabnya yang baik tetapi nasibnya pun sudah baik karena bisa menjadi ketua umum PB NU.
Yahya Staquf belakangan sempat menjadi sorotan lantaran kehadiran ilmuwan pendukung Israel, Peter Berkowitz, di Universitas Indonesia. Berkowitz yang sempat menjadi direktur perencanaan masa pemerintah Presiden Donald Trump (Amerika Serikat) periode pertama itu menjadi narasumber dalam acara Pengenalan Sistem Akademik Universitas (PSAU) Pascasarjana Universitas Indonesia 2025 di kampus UI.
Para mahasiswa protes dan UI dianggap tidak mendukung sikap pemerintah selama ini yang pro-Palestina. Rektor UI Prof Heri Hermansyah menjadi sasaran kecaman civitas akademika UI. Selain itu, sasaran kemarahan lain dari warga UI tertuju pada Yahya Staquf. Ini lantaran Yahya juga menjadi ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI.
Para aktivis dan mahasiswa UI juga tahu, bahwa Berkowitz saat itu pun diundang dan memberi ceramah di kantor PB NU. Tak pelak lagi, para mahasiswa ini menuding Yahya merupakan orang di balik kehadiran Berkowitz di UI. Tudingan ini juga didasari fakta lain adanya kedekatan Yahya dengan petinggi negeri zionis tersebut.
Yahya Staquf pernah mengunjungi Israel pada pertengahan Juni 2018 lalu. Dalam kunjungannya ke Israel itu, Yahya sempat bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu. Yahya menyatakan, kunjungannya itu bersifat pribadi. Hal ini justru menandakan kedekatan dia dengan pimpinan Israel tersebut.
Kegeraman mahasiswa atas Yahya Staquf dituangkan dalam bentuk petisi dan menuntut mundur dari MWA UI. Yahya lalu minta maaf dan mengaku tidak teliti karena hanya mempertimbangkan latar belakang akademis Berkowitz tetapi tidak berpikir jauh soal sikap politik narasumber tersebut.
Adapun sang adik, Yaqut Cholil Qoumas, terbelit masalah lain. Sama seperti sang kakak, Yaqut pun menempuh pendidikan tinggi di bidang nonkeagamaan. Seperti kakaknya pula, ia kuliah di program studi sosiologi Universitas Indonesia. Bak napak tilas sang kakak, meski beda universitas, Yaqut pun tidak sempat lulus kuliah.
Sampai kemudian, Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai menteri agama menggantikan Fahrul Razi. Masalah muncul ketika ia usai menjalani masa pengabdian sebagai menteri agama yang penuh kontroversi. Mantan ketua Gerakan Pemuda Ansor ini harus menjalani pemeriksaan sehubungan dengan urusan haji.
Persoalan bermula ketika Pemerintah Arab Saudi pada 2023 menambah kuota haji Indonesia sebanyak 20.000 jamaah. Sesuai proporsi perbandingan jumlah calon jamaah haji reguler dan haji khusus, maka seyogianya dari tambahan kuota itu sebanyak 18.400 untuk haji reguler dan 1.600 untuk haji khusus. Namun yang terjadi kemudian bukan seperti itu.
Isu yang berkembang menyebutkan, sebanyak 10.000 kuota tambahan jamaah haji dilego oleh Kementerian Agama untuk haji khusus. Malah ada yang menyatakan, sebanyak 10.000 kuota itu diberikan buat haji furoda yang tarifnya minimal Rp350 juta hingga Rp900 juta per jamaah. Kasus inilah yang membuat Yaqut harus menjalani pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Tidak hanya itu, Yaqut dicegah dan tidak boleh bepergian ke luar negeri. Rumah Yaqut juga sudah digeledah oleh KPK untuk melengkapi bukti-bukti lain dalam pemeriksaan kasus penyalahgunaan kuota tambahan ibadah haji tersebut.
Dalam suatu kesempatan, juru bicara KPK, Budi Prasetyo, mengutarakan akibat kasus penyalahgunaan kuota tambahan haji itu pemerintah dirugikan sekitar Rp1 triliun. Selain Yaqut, dua orang lagi juga harus menjalani pencegahan dan penangkalan ke luar negeri, yakni Ishfah Abdidal Azis (staf khusus Kemenag), dan Fuad Hasan Masyhur (pemilik biro haji Maktour).
Hingga saat ini, belum ditetapkan siapa yang menjadi tersangka. Akan tetapi salah seorang karyawan Kementerian Agama, dalam sebuah siniar, menegaskan bahwa Yaqut-lah yang paling bertanggung jawab atas penyalahgunaan kuota tambahan haji tersebut. Kini Gus bersaudara itu sedang menunggu penyelesaian kasus mereka masing-masing.



