Melihat Kehidupan Anak Pahlawan Nasional Ismail Marzuki yang Serba Pas-pasan

Foto : Detik.com

DEPOK – Pahlawan Nasional Ismail Marzuki memiliki anak semata wayang bernama Rachmi Aziyah (66). Karya-karya besar yang dihasilkan ayahnya bertolak belakang dengan kehidupan keluarganya saat ini. Anak semata wayangnya Rachmi hidup pas-pasan dengan mengontrak di Perum Bappenas A12, RT 1 RW 6, Kelurahan Kedaung, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat.

Di kontrakan itu Rachmi tinggal bersama suami dan dua orang keponakannya. Keempat anaknya sudah menikah dan tinggal terpisah dengan mereka. Rachmi mengisahkan, sebelum di Depok, keluarganya tinggal di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Mereka terpaksa pindah dari sana karena biaya kontrakan yang kian ‘mencekik’ setiap tahun.

“Setelah bapak meninggal, rumah dijual dan kontrak di Pondok Labu. Setelah itu sejak 21 tahun lalu kami pindah ke sini karena kontrakan rumahnya murah, dulu itu Rp 500 ribu per tahun. Semakin ke sini ternyata semakin mahal juga, sekarang itu Rp 6,5 juta per bulan,” ujar Rachmi seperti dilansir Detik.com Sabtu (13/08/16).

Rachmi menceritakan, dia ditinggal pergi sang ayah saat berusia delapan tahun atau tepatnya tahun 1958. Saat itu Ismail Marzuki meninggal dalam usia 44 tahun karena menderita sakit paru-paru. Semasa Ismail Marzuki sakit, lanjut Rachmi, beberapa harta hasil kerja keras sang ayah pun dijual. Setelah ayahnya meninggal, keluarga menggantungkan hidup dari hasil menjual barang-barang peninggalan Ismail Marzuki seperti rumah, mobil, termasuk piano yang biasa digunakan untuk menciptakan lagu.

“Sekarang sisa-sisanya dititipkan di Taman Ismail Marzuki,” katanya.

Pada masa tuanya, Rachmi pun kini berjualan makanan ringan dan minuman dengan pelanggan anak-anak sekolah tepat di depan rumahnya. Rachmi mengaku selama ini banyak penyanyi atau label musik yang datang untuk meminta izin agar lagu-lagu ciptaan ayahnya bisa dinyanyikan atau diaransemen ulang. Meski demikian, tak cukup banyak uang yang diterimanya dari royalti tersebut.

“Ya paling ada setahun sekali royalti. Itu juga hanya Rp 3 juta,” pungkas ibu empat anak yang fasih berbahasa Sunda ini.

Advertisement