
TIDAK hanya di ambang serangan Amerika Serikat akibat gagalnya negosiasi putaran kedua di Jenewa, Swiss (19/2), sementara di dalam negeri Iran, gelombang aksi mahasiwa menentang pemerintah marak lagi.
PADA 21 Februari 2026, ribuan mahasiswa Universitas Teheran dan Universitas Teknologi Sharif meninggalkan ruang kelas dan memilih berkumpul di lapangan kampus, berujung aksi demo baru ibukota Iran tersebut.
Mereka, seperti dilaporkan Kompas.com (25/2) nampaknya masih ingin meluapkan kemarahan yang tertunda sejak Januari 2026 lalu, melalui peringatan gugurnya rekan-rekan mereka dalam kerusuhan berdarah di awal tahun ini.
Kondisi ekonomi yang kian mencekik dan mata uang Rial yang terjun bebas, berkelindan dengan tuntutan radikal atas pembentukan pemerintahan sekuler.
Para mahasiswa di Teheran nampaknya sudah tidak peduli dengan kepungan milisi Basij yang berjaga ketat di setiap sudut gerbang akademik.
Mereka bahkan semakin berani bentrok dengan aparat yang sejauh ini meresponsnya dengan sangat sistematis dan keras.
Alih-alih membuka ruang dialog, otoritas keamanan justru menerapkan metode “tindakan disipliner digital”.
Ribuan mahasiswa menerima pesan singkat penangguhan status akademik secara otomatis karena wajah mereka tertangkap kamera pengawas saat berdemo.
Akses internet minim
Akses internet internasional di Iran kini dilaporkan berada dalam kondisi “normal baru” yang sangat terbatas.
Data terbaru menunjukkan bahwa trafik internet global di Iran menyusut hingga tersisa hanya 30 persen dari kapasitas biasanya, sebuah upaya pemerintah untuk melumpuhkan koordinasi para pendemo tanpa harus melumpuhkan total ekonomi domestik yang bergantung pada sistem intranet.
Sementara itu, ketegangan di dalam negeri Ira dipandang sebagai momentum emas baru untuk meneruskan strategi “Maximum Pressure 2.0” ala Presiden Donald Trump.
Negosias antara wakil-wakil AS dan Iran di Jenewa pekan lalu, yang semula diharapkan menjadi katup pelepas tekanan, justru berakhir dengan ketidakjelasan .
Delegasi Iran datang dengan penawaran yang menurut Presiden Trump hanyalah “remah-remah” diplomatik.
Iran bersedia membatasi stok Uranium secara terbatas, tetapi menolak keras menyentuh program rudal balistik atau menarik dukungan militer untuk kelompok proksi di kawasan.
Agaknya kesabaran Trump pelan-pelan mulai terkikis. AS terus menumpuk kekuatan militer di kawasan Timur Tengah.
Gugus Tempur AS yakni kapal Induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford didukung sejumlah kapal perang yang sudah bersiaga penuh di perairan dekat Selat Hormuz, bahkan dilaporkan akan mengirimkan kapal induk USS George H.W. Bush.
Rezim Iran sendiri sejauh ini masih mengobarkan retorika perang melawan AS dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sudah merancang skenario darurat jika AS benar-benar jadi menyerang.
Isu lain menyebutkan, Khamenei beserta keluarga dekat dan orang terpercayanya konon sedang menyiapkan untuk kabur ke Rusia. (Kompas.com/NS/berbagai sumber).




