JAKARTA, KBKNEWS.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Iran ingin menjadikannya sebagai Pemimpin Tertinggi berikutnya.
Berbicara dalam acara penggalangan dana National Republican Congressional Committee (NRCC) di Washington, Trump bercanda bahwa kampanye pembunuhan yang dilakukan AS dan Israel terhadap pimpinan Iran begitu berhasil hingga membuat posisi Pemimpin Tertinggi menjadi jabatan yang tidak lagi diminati oleh kalangan ulama Iran.
“Tidak pernah ada kepala negara yang begitu tidak menginginkan jabatan seperti menjadi pemimpin Iran,” kata Trump kepada para hadirin.
“Kami mendengar jelas apa yang mereka katakan. Mereka bilang, ‘Saya tidak mau jabatan itu.’ Lalu mereka bilang, ‘Kami ingin Anda menjadi Pemimpin Tertinggi berikutnya.’ Saya jawab, ‘Tidak, terima kasih. Saya tidak mau.’”
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang memerintah sejak 1989 hingga 2026, tewas dibunuh pada hari pertama perang AS-Israel melawan Iran.
Putranya, Mojtaba Khamenei, kemudian diumumkan sebagai kepala negara baru pada 8 Maret.
Namun, muncul pertanyaan mengenai nasib Mojtaba karena ia belum pernah tampil di publik sejak dipilih oleh Majelis Ahli awal bulan ini. Intelijen AS dan Israel juga menyebarkan laporan bahwa ia mungkin telah tewas atau mengalami luka serius.
Ayatollah Ruhollah Khomeini menjadi Pemimpin Tertinggi pertama Iran pada 1979 setelah revolusi yang menggulingkan Shah, dan menjabat hingga wafat pada 1989.
Jabatan tersebut berlandaskan ideologi wilayat al-faqih atau “Kepemimpinan Ulama”, di mana ulama Syiah senior memimpin negara hingga kemunculan kembali Imam Mahdi.
Pemimpin tertinggi biasanya harus bergelar ayatollah, gelar bagi ulama tertinggi dalam yurisprudensi Islam Syiah, kualifikasi yang jelas tidak dimiliki Trump.
AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, menewaskan Khamenei dan sejumlah tokoh penting Iran dalam tiga minggu berikutnya. Meski demikian, Teheran tetap mampu meluncurkan ratusan rudal dan drone ke Israel dan negara-negara Teluk, serta memblokir Selat Hormuz yang strategis.
Trump juga menarik kembali ancamannya untuk menyerang infrastruktur energi Iran pekan ini, dengan mengklaim bahwa pembicaraan damai sedang berlangsung antara Washington dan Teheran, klaim yang berulang kali dibantah Iran.
Kedua negara sama-sama mengajukan tuntutan ambisius untuk mengakhiri perang, sambil mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan mengenai kemajuan negosiasi.





