JAKARTA, KBKNEWS.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengurangi intensitas serangan ke Lebanon.
Aeruan tersebut disampaikan di tengah upaya diplomatik Washington dengan Teheran guna meredakan konflik di Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan NBC News pada Kamis (9/4), Trump menyebut telah berbicara langsung dengan Netanyahu. “Saya berbicara dengan Bibi, dan dia akan mengurangi serangan. Menurut saya, kita memang perlu sedikit menahan diri,” ujarnya.
Pernyataan ini muncul saat AS tengah menjajaki peluang kesepakatan damai dengan Iran. Trump bahkan menyatakan dirinya “sangat optimistis” terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan tersebut.
Sebelumnya, Netanyahu juga mengungkapkan bahwa pemerintah Israel telah diperintahkan untuk membuka pembicaraan langsung dengan Lebanon.
Tujuannya adalah melucuti senjata kelompok Hizbullah sekaligus mendorong terciptanya perdamaian di kawasan.
Di sisi lain, Trump sempat mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran, dengan syarat Teheran membuka kembali akses Selat Hormuz. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas jalur energi global.
Meski begitu, penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut. Hal ini lantaran keberadaan Hizbullah, yang oleh Israel dianggap sebagai ancaman langsung.
Iran sendiri memandang serangan Israel ke Lebanon sebagai bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata dengan AS.
Ketegangan kawasan meningkat sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer AS, serta sempat membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, yang berdampak pada lonjakan harga energi dunia.
Situasi ini membuat upaya diplomasi menjadi krusial, di tengah kekhawatiran konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.





