JAKARTA, KBKNEWS.id – Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyoroti dampak serius kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur terhadap anak-anak yang ditinggalkan para korban.
Seluruh korban meninggal diketahui merupakan perempuan dewasa yang dalam banyak kasus berperan sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga.
Peristiwa ini tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga mengguncang kehidupan keluarga. “Korban meninggal, dikabarkan seluruhnya adalah perempuan. Mereka bukan sekadar penumpang, mereka bisa jadi adalah tulang punggung ekonomi keluarga,” ujar Wakil Ketua KPAI Jasra Putra.
Kehilangan sosok ibu secara mendadak dinilai berdampak besar, mulai dari kondisi psikologis anak hingga stabilitas ekonomi keluarga.
Salah satu kisah yang disorot adalah almarhumah Nuryati yang meninggalkan anak kembar, menggambarkan beban berat yang kini harus dihadapi keluarga yang ditinggalkan.
Selain korban meninggal, korban luka juga menghadapi proses pemulihan panjang, baik fisik maupun trauma.
“Situasi kehilangan kemampuan bekerja secara tiba-tiba dan keharusan menjalani perawatan panjang tentu akan sangat membebani perekonomian dan kondisi psikologis keluarga mereka,” kata Jasra.
Karena itu, diperlukan langkah cepat dan menyeluruh untuk memastikan seluruh korban dan keluarga terdampak mendapatkan perlindungan, mulai dari jaminan pengobatan hingga pendampingan psikologis.
“Perlu kepedulian, dukungan, dan perhatian jangka panjang, terutama bagi anak-anak yang ditinggalkan,” ujarnya.
Perhatian juga diarahkan agar anak-anak korban tidak terlantar dan tetap mendapatkan hak-haknya, termasuk pendidikan dan pengasuhan yang layak.
Tragedi ini menegaskan bahwa dampak kecelakaan tidak berhenti pada peristiwa, tetapi berlanjut panjang dalam kehidupan keluarga yang ditinggalkan.





