Petani Garam di Cirebon Semakin “Terjepit”

Ilustrasi, petani garam/ tempo.co

CIREBON – Kecemasan tengah dirasakan para petani garam di Cirebon, Jawa Barat karena produksi garam tahun lalu belum habis, mereka kini berhadapan dengan kemungkinan menurunnya produksi pada tahun ini.

Hal tersebut dikarenakan faktor cuaca, biasanya penggarapan dimulai Juni namun terpaksa molor dua bulan akibat hujan masih sering turun hingga saat ini.

“Kalau kondisi cuaca tahun ini, baru Agustus petani mulai menggarap. Hasil produksi diprediksi hanya 20 persen dari total produksi biasanya,” ujar Ketua Ikatan Petani Garam Indonesia Cirebon Moch Insyaf Supriyadi, seperti dilansir Liputan6.com, Rabu (17/8/2016).

Ia menambahkan jika petani mulai menggarap Agustus, kristal garam baru bisa dihasilkan pada September mendatang bergantung pada teriknya matahari. Proses produksi kemudian akan berhenti menjelang musim hujan yang umumnya jatuh pada Oktober.

“Jadi, hanya ada kesempatan satu bulan menggarap. Tahun lalu panen sampai 360 ribu ton produksi, sementara tahun ini kemungkinan hanya 20 persennya saja karena kondisi cuaca,” ucap Insyaf.

Kondisi seperti itulah yang dapat dipastikan membuat hidup petani garam semakin terjepit. Jika produksi garam normal saja, petani garam harus gali lubang, tutup lubang. Apalagi jika total hasil produksi garam kurang dari 360 ribu ton per tahun, mereka akan terbelit utang semakin dalam.

Insyaf menambahkan, kebanyakan petani garam Cirebon hanyalah petani penggarap. Jumlah petani garam Cirebon sekitar 60 ribu orang. Rata-rata mereka berpenghasilan Rp 50 ribu-60 ribu per hari. Itu pun dengan catatan jika produksi garam bisa mencapai kapasitas produksi normal.

Biasanya, jika tidak sedang menggarap, kata dia, para petani garam terpaksa bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang berutang kepada para tengkulak garam. Besaran pinjaman petani rata-rata Rp 1,5 juta atau sesuai dengan pendapatan mereka selama sebulan.

“Kalau petani tidak menggarap lahan karena cuaca ya tetap dianggap menunggak atau hutang. Beruntung tidak berbunga. Tapi, seiring berkembangnya zaman kebutuhan pun semakin meningkat,” tutur Insyaf.

Advertisement