
ASA terwujudnya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memudar setelah Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut.
Iran seperti dilansir AFP (11/5), sebelumnya merespons proposal damai terbaru Washington sambil memperingatkan bahwa mereka tidak akan menahan diri untuk membalas serangan baru AS ataupun membiarkan kapal perang asing masuk ke Selat Hormuz.
Melalui unggahan singkat di platform Truth Social pada Minggu (10/5), Trump menegaskan penolakannya terhadap respons Tehran.
“Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya — SAMA SEKALI TIDAK BISA DITERIMA!” tulis Trump, seperti dikutip AFP.
Di tengah tarik ulur diplomasi antara AS dan Iran, PM Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa perang belum akan berakhir sebelum uranium yang diperkaya milik Iran dipindahkan dan fasilitas nuklirnya dibongkar.
“Belum berakhir, karena masih ada material nuklir berupa uranium diperkaya yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar,” kata Netanyahu dalam wawancara dengan program “60 Minutes” stasiun CBS.
Netanyahu juga mengatakan, Trump memiliki pandangan yang sama terkait uranium yang diperkaya tersebut.
Iran tetap bersikap keras
Sementara itu, Iran tetap menunjukkan sikap keras di depan publik meski jalur diplomasi masih berlangsung di belakang layar.
“Kami tidak akan pernah tunduk kepada musuh, dan jika ada pembicaraan mengenai dialog atau negosiasi, itu tidak berarti menyerah atau mundur,” tulis Presiden Iran Masoud Pezeshkian di platform X.
IRIB menyebutkan, respons Iran terhadap proposal AS yang disampaikan melalui mediator Pakistan berfokus pada penghentian perang “di semua front, terutama Lebanon”, lokasi di mana Israel masih terus bertempur melawan kelompok Hizbullah proxi Iran.
Respons itu juga menyoroti pentingnya “menjamin keamanan pelayaran”. Laporan tersebut tidak merinci isi proposal Iran secara lengkap.
Proposal AS sebelumnya disebut berfokus pada perpanjangan gencatan senjata di kawasan Teluk guna membuka ruang perundingan menuju penyelesaian akhir konflik dan program nuklir Iran.
Kebuntuan negosiasi itu langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 2,69 persen per barrel untuk pengiriman Juli.
Laporan The Wall Street Journal menyebut Iran turut mengajukan tuntutannya sendiri kepada Washington, termasuk usulan agar sebagian uranium yang diperkaya diencerkan dan sisanya dipindahkan ke negara ketiga.
Media pemerintah Iran, IRIB merespons penolakan Presiden Trump atas proposal Teheran bahkan menyatakan keengganan Iran untuk tunduk pada rencana AS.
“Menerima rencana AS berarti Iran menyerah pada keserakahan Trump,” lapor IRIB dalam sebuah pernyataan di saluran Telegram, dikutip dari Al Jazeera, Senin (11/5).
Iran tuntut ganti rugi
Pernyataan itu menyebutkan bahwa tawaran terbaru Iran juga menekankan perlu ganti rugi perang oleh AS dan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, serta kebutuhan untuk mengakhiri sanksi dan membebaskan dana dan aset Iran yang disita.
Beberapa hari setelah AS mengajukan tawaran dengan harapan membuka kembali negosiasi, Iran merilis tanggapan yang berfokus untuk mengakhiri perang di semua front, terutama Lebanon dan menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang diblokade AS.
Dikutip dari media setngahresmi Iran, Tasnim, Minggu, proposal Iran mencakup tuntutan ganti rugi atas kerusakan perang dan penekanan pada kedaulatan Iran atas selat tersebut.
Proposal itu juga menyerukan AS untuk mengakhiri blokade angkatan lautnya, menjamin tidak akan ada serangan lebih lanjut, mencabut sanksi, dan mengakhiri larangan AS terhadap penjualan minyak Iran.
AS telah mengusulkan penghentian pertempuran sebelum memulai pembicaraan mengenai isu-isu yang lebih kontroversial, termasuk program nuklir Iran.
The Wall Street Journal mengutip sumber anonim, mengatakan Iran mengusulkan untuk mengurangi sebagian uranium yang sangat diperkaya dan mentransfer sisanya ke negara ketiga.
Pakistan, yang telah menjadi mediator dalam pembicaraan mengenai perang tersebut, meneruskan tanggapan Iran kepada AS.(AFP/al-Jazeera,Tasnim/Kompas.com/ns)




