
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyebutkan, gencatan senjata antara negaranya dan Iran dalam kondisi kritis di tengah upaya negosiasi yang tak kunjung ada titik temu.
“Saya menilai, saat ini situasinya sangat kritis, seperti berada di ambang kematian,” kata Trump ke awak media di Gedung Putih seperi dilansir AFP, Senin (11/5).
Di kesempatan lain, Trump mengatakan AS tengah mempertimbangkan untuk kembali menerapkan Freedom Project, yakni operasi mengawal kapal melintasi Selat Hormuz sekaligus mencabut kendali Iran atas perairan tersebut.
Trump lalu menegaskan, kebuntuan diplomatik yang terjadi saat ini bukan berarti AS mundur.
“Kita akan meraih kemenangan total. Saya lelah dengan ini. Saya bosan, atau mungkin dianggap saya mengalami tekanan. Tidak ada tekanan,” kata dia saat wawancara dengan Fox News.
Iran yang terlibat perang dengan koalisi AS dan Israel 28 Feb. lalu menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan sejak 8 hingga 22 April, namun diperpanjang sepihak oleh AS sampai batas waktu yang tidak ditetapkan.
Mengenai pertanyaan apakah AS masih bersedia untuk bernegosiasi dengan Iran, Trump menjawab secara jelas, justru mencela kepemimpinan Iran.
“Kepemimpinan Iran terbagi menjadi tokoh-tokoh moderat dan orang-orang gila,” ungkap presiden AS ini.
Sebelumnya, AS mengusulkan proposal untuk mengakhiri perang berisi penghentian program nuklir Iran hingga akses pengawasan Selat Hormuz.
Sejumlah sumber mengatakan Iran sudah menanggapi proposal itu. Salah satu sumber juga menyebut Teheran siap memindahkan uranium yang diperkaya ke negara ketiga jika negosiasi berhasil.
Namun, jika perundingan gagal Iran menginginkan, uranium itu dikembalikan. Pemerintahan yang berbasis di Teheran ini juga menolak penghentian program nuklirnya.
AS dan Iran serta mediator Pakistan terus mengupayakan negosiasi agar gencatan senjata permanen bisa tercapai, namun, kesepakatan sulit dicapai karena AS dan Iran beda pandangan soal beberapa poin terutama terkait nuklir.
Kesiapan Iran Hadapi AS:
Mobilisasi Pasukan: Iran mengklaim menyiapkan hingga sejuta personel militer, termasuk Garda Revolusi (IRGC) dan milisi, sebagai persiapan menghadapi invasi darat.
Penguatan Rudal dan Alutsista: Iran memamerkan ribuan rudal balistik jarak menengah dan memproduksi 1.000 jenis senjata secara mandiri, serta mengeklaim 70 persen stok rudal masih utuh.
Iran mengadopsi taktik perang asimetris yang diterapkan proksinya di Yaman: Houthi dengan menguras anggaran militer AS, menggunakan drone dan rudal murah untuk merusak aset mahal AS.
Iran juga dilaporkan mengoperasikan sistem pertahanan udara “Zoubin” yang diklaim mampu menghalau drone dan rudal, mirip dengan sistem Iron Dome, milik Israel.
Sebaliknya, Presiden AS Trump mengeklaim, AL dan AU Iran sudah berhasil dilumpuhkan, tercermin dari leluasanya pesawat-pesawat tempur AS dan Israel mendominasi angkasa Iran sejak awal konflik.
Iran dilaporkan juga terus memperkuat bunker nuklir bawah tanah di Natanz dan Isfahan dengan beton tambahan serta memperbaiki situs-situs peluncuran rudalnya yang diincar AS dan Israel.
Komando Iran mengaktifkan strategi pertahanan “Mozaik”, dengan memberikan otonomi kepada komandan lokal jika pusat komando diserang.
Di tengah kebuntuan negosiasi dan retorika perang bersahut-sahutan antara AS dan Iran, situasi menjadi makin tak menentu.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan blokade laut yang dilancarkan amada AS membuat rantai pasok minyak global terhalang dan pada gilirannya membuat harga minyak mentah terus melonjak.
Menurut Reuters, sepanjang perdagangan, Senin (11/5) harga minyak acuan jenis Brent mencapai 105,99 dolar AS per barel,sedangkan WTI 100,37 dolar AS per barel.
“Perang, tidak, perang, tidak”. Dunia menanti situasi yang bakal terjadi dengan arap-harap cemas. (AFP/CNN/kompas.com/ns)




