
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan tiba di Beijing, Rabu (13/5) dalam rangkaian lawatan kenegaraan ke China, bertemu dengan mitranya Presiden Xi Jinping sampai Jumat (15/5) di tengah konflik di Timur Tengah.
Kunjungan Trump seperti dilansir AFP menandai pertemuan puncak dua pemimpin negara adi kuasa di tengah upaya AS meningkatkan hubungan dagang, meski dibayangi potensi gesekan terkait isu Taiwan dan Iran.
Trump bertolak dari Washington Selasa (12/5) setelah sempat tertunda akibat situasi perang, sebagaimana dilansir AFP.
Sebelum keberangkatannya, asa Trump membuncah untuk bisa melakukan dialog panjang dengan Xi terutama mengenai masalah Iran dan agaknya ia bakal meredam potensi perselisihan terkait isu Iran. Trump juga memuji sikap Xi yang dianggapnya kooperatif.
“Saya pikir kita tidak butuh bantuan apa pun soal Iran. Kita akan memenangkannya dengan satu dan lain cara, secara damai atau sebaliknya,” ujar Trump kepada pers saat meninggalkan Gedung Putih.
Trump menambahkan, Xi telah bersikap jujur dan relatif baik dalam menanggapi situasi tersebut.
Kunjungan Trump pertama kalinya sejak 2017 ini akan diisi dengan jadwal yang padat, termasuk jamuan kenegaraan dan resepsi teh.
Puncak agenda adalah pembicaraan tingkat tinggi antara Trump dan Xi yang dijadwalkan berlangsung Kamis (14/5) dan Jumat (16/5). Selain masalah Iran, Trump menyatakan akan berbicara dengan Xi mengenai penjualan senjata AS ke Taiwan.
Langkah ini dianggap sebagai perubahan dari sikap historis AS yang biasanya tidak berkonsultasi dengan Beijing terkait dukungan terhadap pulau tersebut.
Jelang lawatannya di Beijing, Trump meyakini hubungan pribadinya dengan Xi dapat mencegah ketegangan lebih lanjut di Taiwan.
“Saya pikir kita akan baik-baik saja. Saya punya hubungan yang sangat baik dengan Presiden Xi. Dia tahu saya tidak ingin hal itu (invasi) terjadi,” tegas Trump pada Senin (11/5).
Isu ekonomi mengemuka
Isu ekonomi juga menjadi sorotan utama. Pembahasan mengenai kontrol ekspor tanah jarang oleh China serta hubungan dagang yang penuh dinamika diprediksi akan menjadi
topik hangat.
Trump tidak datang sendiri. Gedung Putih mengonfirmasi bahwa sejumlah pemimpin bisnis papan atas AS, termasuk Elon Musk dari Tesla dan Tim Cook dari Apple, turut mendampingi
dalam kunjungan ini.
Ketegangan menjelang pertemuan puncak ini sudah terasa di sudut-sudut kota Beijing. Personel kepolisian tampak berjaga di persimpangan jalan besar dan melakukan pemeriksaan identitas penumpang di kereta bawah tanah.
Di tengah situasi ekonomi China yang sedang berjuang melawan lesunya pengeluaran domestik dan krisis utang sektor properti, warga setempat menaruh harapan pada pertemuan ini.
Hubungan Beijing dan Washington kian kompleks menyusul pecahnya perang di Iran yang dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Kementerian Keuangan AS baru-baru ini menjatuhkan sanksi kepada 12 individu dan entitas, termasuk yang berbasis di Hong Kong, karena dianggap memfasilitasi penjualan dan pengiriman minyak Iran ke China.
Menanggapi hal tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menegaskan posisi pemerintahannya.
“China dengan tegas menentang sanksi sepihak yang ilegal,” ujarnya pada Selasa.
Saat ini, kedua negara masih berada dalam masa “gencatan senjata” perang tarif selama satu tahun, yang disepakati dalam pertemuan Trump dan Xi di Korea Selatan, Okt. 2025.
Surplus perdagangan China yang besar terhadap AS tetap menjadi poin krusial yang selama ini dikeluhkan oleh Trump. (AFP/Kompas.com/ns)




