JAKARTA, KBKNEWS.id – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS dan menimbulkan keresahan yang akan berdampak pada naiknya harga baranv-barang.
Angka tersebut mengingatkan publik pada krisis ekonomi 1998, ketika rupiah sempat terpuruk hingga Rp 17.000 per dolar AS.
Di tengah kondisi tersebut, publik kembali menyoroti strategi Presiden ke-3 RI BJ Habibie yang kala itu berhasil membawa rupiah menguat hingga berada di kisaran Rp 6.500 per dolar AS dalam waktu sekitar 17 bulan.
Habibie mengibaratkan kondisi ekonomi Indonesia saat krisis seperti pesawat yang mengalami stall, yakni kehilangan daya angkat dan berada dalam posisi berbahaya yang bisa menyebabkan jatuh. Dengan pendekatan teknis dan ekonomi, ia kemudian mengambil sejumlah langkah untuk memulihkan kondisi nasional.
Salah satu kebijakan penting yang dilakukan adalah restrukturisasi sektor perbankan. Pemerintah menggabungkan sejumlah bank menjadi institusi yang lebih kuat secara pendanaan, termasuk melahirkan Bank Mandiri.
Selain itu, Habibie juga memperkuat independensi Bank Indonesia agar tidak lagi berada di bawah tekanan langsung pemerintah seperti pada era sebelumnya.
Kebijakan lain yang ditempuh meliputi pemulihan kepercayaan investor, stabilisasi politik, hingga penataan utang dan sektor ekonomi nasional pascakrisis.
Meski begitu, sejumlah ekonom menilai kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis 1998. Faktor global, penguatan dolar AS, serta dinamika geopolitik internasional disebut menjadi tantangan tersendiri bagi rupiah saat ini.





