
URANIUM menjadi sorotan dunia di tengah perang Iran melawan koalisi Amerika Serikat yang berkecamuk sejak 28 Februari hingga gencatan senjata yang berlangsung 8 – 22 April April yang diperpanjang hingga hari ini.
Dalam deal-deal antara AS dan Iran, Teheran disebut sepakat mengurangi dan memindahkan uranium yang sudah diperkaya ke negara ketiga, sebagai tanggapan proposal AS untuk mengakhiri perang. Namun ternyata, kesepakatan tersebut dibantah Iran.
Iran diperkirakan memiliki sekitar 44o kg uranium yang diperkaya hingga level 60 persen dan sekitar 1.000 kg uranium berkadar 20 persen. Jumlah tersebut diperkirakan cukup untuk membuat selusin hulu ledak nuklir walau perlu ditingkatkan lagi kadarnya sampai 90 persen untuk mencaapai tingkat senjata.
Sumber yang mengetahui masalah itu mengatakan Iran memang setuju tetapi mengajukan syarat ketat. Teheran menyerukan jaminan uranium yang ditransfer ke negara ketiga akan dikembalikan jika pembicaraan gagal. Mereka juga menolak pembongkaran fasilitas nuklir.
Persoalan nuklir Iran menjadi topik sangat serius di antara kedua negara bahkan sejak perang 28 Februari belum dimulai.
Presiden AS Donald Trump ingin menghancurkan program nuklir Iran, tetapi Teheran ingin Washington menghormati hak mereka memperkaya uranium.
Asal uranium
Semuanya berawal dari kerak bumi, tempat bijih uranium berada. Uranium ditambang dari bumi dan kemudian diubah menjadi gas agar dapat diperkaya untuk keperluan nuklir, baik damai maupun destruktif.
Laman education.cfr.or, sebuah laman tentang kebijakan luar negeri sejumlah negara menjelaskan, uranium ditemukan di seluruh dunia, meski sebagian besar dalam jumlah sangat sedikit.
Hanya ada lima negara, yaitu Australia, Kanada, Kazakhstan, Namibia, dan Rusia, menyumbang sekitar dua pertiga dari pasokan uranium dunia yang diketahui.
Di alam, uranium merupakan campuran dari dua isotop: uranium-235 (U-235) dan uranium-238 (U-238). U-235 sangat penting karena mudah mengalami fisi (tidak seperti U-238) dan sangat langka, hanya kurang dari 1 persen dari uranium alami di dunia.
Jadi, negara-negara dengan ambisi nuklir, baik tujuan damai maupun militer, perlu terlebih dahulu meningkatkan proporsi U-235 dalam sampel uranium mereka melalui proses yang disebut pengayaan. Pengayaan inilah langkah yang harus ditempuh sebelum akhirnya menjadi senjata nuklir
Waktu yang dibutuhkan?
Pengayaan uranium umumnya dilakukan dalam sentrifugasi gas. Setelah diubah menjadi gas, uranium dimasukkan ke dalam sentrifugasi, yang berputar dengan kecepatan tinggi, untuk memisahkan U-238 yang sedikit lebih berat dari U-235.
Uranium dapat diperkaya hingga berbagai tingkat, yang terbagi dalam dua kategori.
Pertama uranium yang diperkaya rendah (LEU), memiliki kurang dari 20 persen U-235 dan sering digunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir atau reaktor non-pembangkit listrik, yang menghasilkan produk medis, penelitian ilmiah, dan tujuan lain.
Kedua, uranium yang sangat diperkaya (HEU), yang memiliki 20 persen atau lebih U-235 dan terutama digunakan untuk tujuan militer, untuk mengembangkan senjata nuklir dan dalam beberapa aplikasi khusus lainnya seperti reaktor pada kapal selam bertenaga nuklir.
Semua tingkat pengayaan tinggi dapat digunakan untuk senjata, tetapi pengayaan hingga setidaknya 90 persen, kadang-kadang disebut uranium tingkat senjata.
Melalui tingkat pengayaan yang lebih tinggi berarti lebih sedikit uranium yang dibutuhkan untuk memproduksi senjata sehingga berarti hulu ledak dapat dibuat lebih kecil dan lebih ringan.
Program pengayaan uranium hingga 90 persen untuk tingkat senjata nuklir relatif lebih mudah dilakukan sehingga begitu suatu negara mampu memperkaya uranium, hanya dibutuhkan beberapa bulan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Karena alasan itu, pemantauan proliferasi oleh lembaga berwenang sangatlah sulit.
Kabar terakhir sampai hari ini (23/5), Presiden AS Donald Trump mengancam akan merebut uranium Iran dan menghancurkannya sehingga tidak bisa digunakan siapa pun untuk membuat senjata nuklir, sebaliknya, Iran menganggap, mempertahankan uranium adalah harga mati. (CNNI/ns)




