MANGGARAI TIMUR, KBKNEWS.id — Puing-puing Masjid Al Istiqomah di Ronting, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi mulai dibersihkan pada Sabtu (29/8/2026). Bangunan yang sebelumnya sempat direnovasi bersama Dompet Dhuafa tersebut mengalami kehancuran parah akibat guncangan gempa bumi yang melanda wilayah NTT pada 15 Agustus 2026 lalu.
Bagi warga pesisir Ronting, runtuhnya masjid tersebut meninggalkan duka mendalam yang bahkan melebihi kehilangan tempat tinggal pribadi mereka.
Salah seorang pemuda setempat, Julfakar, menuturkan bagaimana momen memilukan itu disaksikan langsung oleh para nelayan yang sedang melaut saat gempa terjadi sekitar pukul 05.58 WITA. Masjid megah yang selama ini menjadi penanda daratan dan kebanggaan desa, tiba-tiba lenyap dari pandangan.
“Waktu kejadian itu banyak nelayan yang masih di laut. Banyak yang jam 10.00, jam 11.00, bahkan jam 13.00 baru pulang. Mereka menangis itu bukan karena rumahnya, tapi lihat masjid dulu baru mereka menangis,” ungkap Julfakar, Senin (31/8/2026).
Ia menceritakan bahwa bagi nelayan Ronting, kubah dan menara Masjid Al Istiqomah adalah pemandangan pertama yang menyambut mereka saat kembali dari laut lepas.
“Bangunan yang paling mewahlah kalau di sini, ikonnya Ronting. Kalau dari arah laut, yang paling pertama kita lihat kan masjid itu kalau pulang melaut. Ketika mereka lihat masjid sudah roboh, itu yang membuat mereka menangis dan berteriak dari sebelum sampai,” kenangnya.
Rasa kehilangan mendalam juga dirasakan langsung oleh Julfakar saat menyusuri desa pascabencana. Meski permukiman warga rata dengan tanah, titik emosional terberat justru berada di halaman masjid.
“Pas saya turun, saya sengaja putar lewat jalan depan masjid. Sampai di masjid itu baru menetes air mata. Pas sampai di masjid itu, banyaklah kesan,” tuturnya.
Bagi masyarakat Ronting, Masjid Al Istiqomah bukan sekadar tempat ibadah ritual, melainkan pusat kehidupan sosial dan musyawarah warga. Di sanalah berbagai keputusan penting desa dirumuskan bersama.
“Banyak keputusan-keputusan kita itu rapatnya di masjid. Teman-teman muda, orang-orang tua, sama-sama punya suara untuk mengambil keputusan yang paling baik di Ronting,” pungkas Julfakar.
Kini, proses pembersihan material reruntuhan menjadi langkah awal bagi warga Ronting untuk bangkit dan menata kembali harapan dalam membangun kembali pusat spiritual dan sosial mereka.







