MANGGARAI TIMUR, KBKNEWS.id — Suara denting bilah kayu dan gesekan benang terdengar ritmis di bawah rindangnya pepohonan di salah satu perkampungan Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para perempuan setempat dengan penuh ketelatenan terus melestarikan warisan budaya leluhur melalui pembuatan kain tenun tradisional Songke khas Manggarai.
Duduk beralaskan tanah dengan alat tenun gedogan tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu, seorang ibu tampak lihai menyusun helai demi helai benang. Kakinya yang menopang tumpuan kayu menjadi kunci utama untuk menjaga ketegangan benang agar hasil tenunan kelak rapat dan berkualitas tinggi.
Pantauan langsung KBKNEWS.id, Senin (31/8/2026) memperlihatkan proses pembuatan kain tenun ini membutuhkan ketelitian, konsentrasi, serta kesabaran ekstra. Dengan bantuan jarum kecil, perajin memasukkan benang aneka warna satu per satu ke sela jalinan benang dasar hitam untuk membentuk pola geometris yang kaya makna.
Kain tenun Songke Manggarai identik dengan warna dasar hitam pekat yang melambangkan keagungan serta kepasrahan kepada Sang Pencipta. Di atas latar gelap tersebut, disematkan ornamen khas bernuansa cerah seperti kuning, oranye, merah, hijau, hingga putih yang merepresentasikan keseimbangan dan keindahan alam.
Setelah benang motif diselipkan dengan rapi, kayu pembatas dan pengungkit dipindahkan secara perlahan dan teratur. Setiap langkah dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin modern, memastikan keaslian serta nilai estetika kain tetap terjaga seutuhnya.
Satu lembar kain tenun bermotif rumit dapat memakan waktu pengerjaan dari hitungan minggu hingga berbulan-bulan. Tingkat kesulitan yang tinggi serta ketelitian dalam merajut motif-motif tradisional itulah yang membuat selembar kain tenun Manggarai memiliki nilai seni dan nilai ekonomi yang tinggi.
Kain tenun hasil karya ibu-ibu ini tidak hanya digunakan dalam upacara adat dan perayaan budaya lokal, tetapi juga menjadi penopang ekonomi keluarga. Keindahan corak etnik yang khas kini kian diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke wilayah Manggarai.
Bagi kaum perempuan di Manggarai, menenun bukan sekadar rutinitas mengisi waktu luang atau mencari penghasilan tambahan, melainkan wujud dedikasi menjaga identitas budaya. Melalui jemari terampil para ibu, tradisi tenun Songke terus diwariskan dari generasi ke generasi agar tidak lekang oleh arus zaman.







