Lansia dalam Bayang-Bayang Erupsi Krakatau

Aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau selalu menjadi ancaman kesehatan yang nyata, terutama bagi kelompok lansia. Sejarah mencatat bahwa gunung ini beberapa kali meletus dalam dua dekade terakhir, dengan peristiwa besar pada tahun 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda, serta letusan pada September 2026 yang menyebarkan abu hingga Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Barat. Setiap kali terjadi erupsi, dampak kesehatan masyarakat tidak bisa dihindari, dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan.

Wilayah pesisir Lampung Selatan, Pesawaran, Serang, dan Pandeglang adalah daerah yang paling sering terdampak langsung. Jumlah lansia di Lampung mencapai lebih dari 1,1 juta jiwa, sementara di Banten sekitar 1,26 juta jiwa. Jika ditambah dengan lansia di pesisir DKI Jakarta dan Jawa Barat, total populasi lansia yang berpotensi terdampak mencapai sekitar 3,3 juta jiwa. Angka ini menunjukkan betapa besar beban kesehatan yang harus diantisipasi ketika Anak Krakatau kembali beraktivitas.

Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Kandungan silika tajam membuatnya berbahaya bagi paru-paru, mata, dan kulit. Bila bercampur dengan air, abu dapat mengeras seperti semen sehingga salah cara membersihkan justru menambah risiko. Partikel halusnya mampu menembus jauh ke dalam saluran pernapasan, memicu peradangan, dan memperburuk penyakit kronis. Hal ini berbeda dengan asap kebakaran hutan dan lahan yang lebih banyak mengandung karbon, gas beracun, dan partikel organik. Abu vulkanik menimbulkan iritasi fisik yang cepat, sementara asap karhutla berdampak lebih lama dan kronis terhadap kesehatan pernapasan dan kardiovaskular.

Bagi lansia, paparan abu vulkanik dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Gangguan pernapasan seperti ISPA, sesak napas, dan eksaserbasi asma atau PPOK sering terjadi. Risiko kardiovaskular meningkat dengan tekanan darah yang naik dan potensi serangan jantung atau stroke. Mata menjadi perih, berair, dan mudah teriritasi, sementara kulit mengalami gatal dan peradangan. Tidak jarang lansia juga mengalami kebingungan atau penurunan konsentrasi akibat paparan berkepanjangan. Trauma evakuasi mendadak dan isolasi sosial menambah beban psikologis berupa stres dan depresi.

Mitigasi harus dilakukan secara menyeluruh. Masyarakat perlu menggunakan masker N95 atau KN95 serta kacamata pelindung, menutup celah rumah agar abu tidak masuk, dan membersihkan abu dengan cara membasahinya terlebih dahulu. Keluarga dan caregiver harus memastikan obat rutin lansia tersedia, memantau tanda bahaya, dan memberikan dukungan psikososial. Fasilitas kesehatan di daerah terdampak wajib menyiapkan oksigen konsentrator, obat ISPA, salep kulit, dan obat tetes mata, serta menyiagakan tenaga kesehatan untuk evakuasi darurat.

Membersihkan abu vulkanik di rumah harus dilakukan dengan cara yang penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan masalah kesehatan. Abu vulkanik mengandung partikel silika yang tajam dan bersifat asam, sehingga bila salah penanganan dapat merusak lantai, kaca, kendaraan, sekaligus membahayakan paru-paru. Sebelum mulai membersihkan, pintu dan jendela harus ditutup rapat agar abu dari luar tidak masuk kembali, sementara kipas angin dan AC sebaiknya dimatikan agar partikel tidak berputar dan menyebar ke seluruh ruangan. Permukaan yang tertutup abu perlu dibasahi dengan semprotan air ringan sebelum disapu atau dikumpulkan, karena menyiram dengan ember justru membuat abu mengeras seperti semen. Lantai dan perabotan sebaiknya dibersihkan menggunakan kain pel basah atau bila memungkinkan menggunakan vacuum cleaner dengan filter HEPA. Abu yang terkumpul sebaiknya dimasukkan ke dalam wadah tertutup, bukan dibuang ke saluran air. Selama proses pembersihan, gunakan masker N95 atau KN95, kacamata pelindung, sarung tangan, dan pakaian lengan panjang, serta jauhkan anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru dari area pembersihan karena mereka lebih rentan terhadap paparan abu. Dengan langkah yang hati-hati dan perlindungan yang tepat, rumah dapat kembali bersih tanpa menimbulkan risiko kesehatan tambahan bagi penghuninya.

Letusan Anak Krakatau adalah pengingat bahwa bencana alam tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat. Lansia, dengan segala keterbatasan fisik dan penyakit kronis yang mereka miliki, harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam strategi mitigasi. Dengan perlindungan individu, dukungan keluarga, dan kesiapan fasilitas kesehatan, risiko komplikasi dan mortalitas dapat ditekan, sehingga kelompok usia lanjut tetap terlindungi di tengah ancaman vulkanik yang terus berulang.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here