
JAKARTA, KBKNEWS.id – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM membenarkan pertumbuhan fisik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berlangsung pesat.
Namun, kondisi tersebut masih dinilai aman dan belum berpotensi memicu tsunami.
Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau merupakan dinamika normal dalam pembentukan gunung api muda. Aktivitas vulkaniknya saat ini juga kembali mengikuti pola erupsi strombolian dengan durasi singkat.
“Potensi erupsi masih ada, tetapi jangan terlalu dikhawatirkan karena ini memang bagian dari dinamika pertumbuhan Anak Krakatau yang merupakan gunung api muda yang sedang membentuk tubuhnya,” kata Rita, Kamis (17/9/2026).
Menurut Rita, pertumbuhan fisik Anak Krakatau yang sangat cepat dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kondisi tektonik regional, sistem magma yang telah terbuka, karakteristik magma yang encer, serta tingginya frekuensi erupsi.
Perubahan arah subduksi lempeng tektonik dari wilayah Sumatera menuju Selat Sunda membuka jalur magma menuju permukaan. Magma bersuhu tinggi dan bersifat cair kemudian dengan cepat menumpuk dan membentuk tubuh gunung.
Di tengah pencarian tim jurnalis yang masih hilang di kawasan Selat Sunda, Rita mengimbau masyarakat tidak panik terhadap potensi keruntuhan tubuh gunung atau flank collapse yang dapat memicu tsunami.
“Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau ini belum mengkhawatirkan bisa menjadi ancaman keruntuhan, karena tubuhnya sekarang ketinggiannya masih sekitar 150-an meter dan slope-nya (kemiringan lereng) juga masih landai. Jadi sekali lagi, saat ini kalau terjadi runtuhan itu tidak akan menyebabkan tsunami,” ujarnya.
PVMBG memastikan pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau terus dilakukan selama 24 jam untuk mengantisipasi setiap perubahan aktivitas vulkanik di wilayah perairan antara Lampung dan Banten.




