JAKARTA – Muhamad Sofyan dan Ismail, korban sandera yang berhasil melarikan diri dari sekapan Abu Sayyaf CS dinilai masih trauma dan pemerintah belum berani memaksa mereka memberikan informasi yang lebih tentang teman-temannya yang lain yang masih disandera.
Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu Lalu Muhammad Iqbal menjelaskan, saat ini pemerintah memang belum punya rencana untuk secepatnya memulangkan dua sandera itu. “Prioritas kami adalah memulihkan trauma dan memperoleh informasi sebanyak-banyaknya,” ujar Iqbal di Jakarta, seperti dilansir Jawapos, Selasa (23/8/2016).
Sementara itu Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir menyatakan, persoalan pemulangan dua sandera yang lolos itu merupakan hal yang kompleks. Sebab, masih ada ABK lainnya yang belum bebas. Informasi berharga tersebut pasti bisa didapatkan.
Menurutnya kondisi mereka yang sudah tersandera dan diancam selama lebih dari satu bulan pasti menimbulkan trauma. Hal itu tak memungkinkan proses penggalian informasi yang terlalu memaksa. “Semua permasalahan ini memang tidak bisa diselesaikan secara buru-buru. Banyak faktor yang harus diperhatikan,” tuturnya.
Terkait pembebasan sandera lainnya, Fachir menerangkan bahwa pemerintah Filipina pun telah melakukan operasi pencarian sejak 17 Agustus lalu. Yang harus dilakukan Indonesia ialah terus menjalin kerja sama yang baik dengan pemerintah Filipina untuk melacak dan membebaskan para sandera WNI.
“Yang harus dimaklumi sejak awal adalah bahwa ini terjadi di negara sahabat. Mereka tentu saja akan memberikan bantuan sebaik-baiknya untuk menangani persoalan ini. Dan kita tidak mungkin melakukan upaya apa pun tanpa bantuan pemerintah setempat,” jelasnya.
Diketahui sudah enam hari Ismali dan Muhamad Sofyan lolos, namun belum dipulangkan juga ke Indonesia. Keluarga dua anak buah kapal (ABK) Charles itu sudah sangat mengharap kehadiran mereka. Namun, tidak semudah itu mereka bisa cepat pulang.





