Awas! Sakit Jantung Juga Sering dialami Kawula Muda

Kini lebih banyak kawula mudah terkena penyakit jantung gegara perubahan pola hidup seperti makan, tidur, dan kurang olahraga (foto: mitra keluarga)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 3/10- SERANGAN jantung selama ini kerap dikaitkan dengan usia lanjut, kini,  akibat perubahan gaya hidup, juga banyak dialami oleh awul muda.

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Kardiovaskular, dr Rachmat Hamonangan, SpPD-KKV, FINASIM, FACP, FICA dari RS St. Carolus Jakarta seperti dilaporkan deik.healt (3/10) mengatakan, perkembangan teknologi membuat banyak aktivitas menjadi lebih mudah dan instan. Di sisi lain, kemudahan tersebut dapat membuat seseorang semakin jarang bergerak.

“Teknologi ini membuat orang malas bergerak. Kemudian semuanya serba instan, ada makanan instan, fast food,” ujar dr Rachmat dalam program detikSore beberapa waktu lalu.

Selain kurang bergerak dan pola makan, gaya hidup urban juga dapat berkaitan dengan kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta stres.

Menurutnya, berbagai faktor tersebut perlu menjadi perhatian karena penyakit jantung kini juga dapat ditemukan pada usia muda. Ia bahkan menyebut pernah menangani pasien berusia 28 tahun yang mengalami serangan jantung.

dr Rachmat menjelaskan, faktor risiko penyakit jantung secara umum dapat dibagi menjadi faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi.”Ya  nggak bisa tuh kayak genetik, umur kan nggak bisa dimodifikasi,” katanya.

Pada kasus serangan jantung di usia muda, faktor genetik biasanya berperan. Dengan demikian, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatannya.

“Kalau serangan jantung usia muda biasanya ada faktor genetiknya,” katanya.

Penting deteksi dini

Untuk itu, dr Rachmat menekankan pentingnya deteksi dini, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.

Menurut dia, pemeriksaan kesehatan dapat membantu menemukan masalah kesehatan lebih awal. Dengan begitu, penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi komplikasi.

“Mendeteksi dini lebih baik daripada kita mengobati yang sudah komplikasi. Jadi medical check up memang sangat dianjurkan. Apalagi dengan kita yang tadi punya faktor risiko,” katanya.

“Jadi pikiran orang Indonesia yang bilang takut ketahuan itu emang harus diubah,” tambahnya.

Ia menggambarkan perbedaan kondisi pasien yang datang ketika baru mengalami gejala, seperti nyeri dada, dengan pasien yang baru mendapatkan pertolongan setelah mengalami serangan jantung berat dan datang terlambat.

“Kita berhasil misalnya kita pun pas melakukan tindakan tapi sudah ada dampaknya. Jantungnya udah lemah. Itu kan jadi ya rugi buat pasiennya juga,” katanya.

Berdasarkan data kemenkes, pada 2025 tercatat 22,5 juta jiwa pengidap penyakit jantung  dengan angka kematian 651.81 jiwa, dan berdaarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), kelompok usi 25 – 34 tahun mulai mendominasi jumlah pasien dibandingkan usia sebelumnya antara 65 hingga 72 tahun.

Waspada dan waspada, dengan mematuhi potokol kesehatan mulai dari menjaga pola makan sehat, tidur teratur, kelola stress, olah raga rutin. (detikhealth/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here