JAKARTA, KBKNEWS.id — Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dilaporkan mereda setelah tidak tercatat letusan selama tiga hari terakhir hingga 12 Oktober 2026.
Meski demikian, gunung api tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.
Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Anak Krakatau mengalami 31 kali erupsi pada 5–9 Oktober 2026. Puncak aktivitas terjadi pada 9 Oktober dengan 26 kali letusan dalam sehari.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Suwarno, mengatakan erupsi tercatat sebanyak empat kali pada 5 Oktober dan satu kali pada 8 Oktober. Aktivitas kemudian meningkat tajam pada 9 Oktober sebelum akhirnya tidak lagi tercatat erupsi sejak 10 Oktober hingga Senin (12/10).
Walaupun aktivitas erupsi telah berhenti sementara, masyarakat dan pengunjung tetap diminta mematuhi rekomendasi keselamatan. Mereka dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius lima kilometer dari kawah aktif.
Pemantauan aktivitas vulkanik terus dilakukan selama 24 jam melalui pengamatan visual dan instrumental. Data tersebut digunakan untuk mengevaluasi perkembangan aktivitas gunung api, menentukan langkah mitigasi, serta mengantisipasi potensi bahaya.
Suwarno juga mengingatkan nelayan yang beraktivitas di perairan Selat Sunda agar memperhatikan informasi resmi mengenai aktivitas gunung api dan kondisi cuaca sebelum melaut.
Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan mengikuti perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau melalui kanal resmi lembaga berwenang. Kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan diperlukan untuk mengurangi risiko bencana di sekitar kawasan tersebut.





