Jepang Siapkan Misi Antariksa ke Planet Mars

Jepang akan mengirmkan misi antariksa MMX ke Phobos, salah satu satelit alami Mars utuk selidiki pembentukan Tata SUrya yang mengawali kehidupan (ilustrasi: oto tekno)

JAKARTA – (KBKNEWS) – JEPANG menyiapkan misi antariksa untuk mengambil sampel dari Phobos, salah satu satelit alami Mars, guna mengungkap petunjuk tentang asal-usul Tata Surya dan material yang berperan bagi mengawali kehidupan di Bumi.

Misi bernama Martian Moons eXploration (MMX) seperti dilaporkan Kompas.com (18/10) itu akan menggunakan roket H3 yang dijadwalkan meluncur dari Pusat Antariksa Tanegashima, Jepang, pada Selasa (20/10) pukul 04.41 waktu setempat.

Wahana nirawak tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan sejumlah badan antariksa Amerika Serikat dan Eropa, sekitar 20 universitas, serta perusahaan teknologi.

Jika berhasil, MMX akan menjadi misi pertama yang melakukan perjalanan pulang-pergi ke sistem Mars sekaligus mengambil sampel dari salah satu satelitnya.

“Kemampuan untuk terlibat dalam misi sebesar ini sangatlah menggembirakan,” kata Makoto Arita, manajer proyek tim roket H3 JAXA, dua hari sebelum peluncuran.

Wahana MMX diperkirakan tiba di dekat Mars sekitar Agustus tahun depan, lalu  mengorbit Phobos sebelum mendarat dan mengumpulkan sedikitnya 10 gram material dari permukaannya.

Pengambilan sampel tersebut akan dilakukan selama misi beroperasi di lingkungan Mars selama tiga tahun.

Sebelum pendaratan, wahana penjelajah atau rover bernama IDEFIX akan melakukan pengamatan permukaan untuk membantu memastikan lokasi pendaratan aman.

Nama IDEFIX diambil dari nama anjing tokoh komik Perancis Asterix.

“Pengambilan sampel dari Phobos tentu merupakan yang pertama di dunia, tetapi ini juga berarti … perjalanan pulang-pergi pertama ke sistem Mars,” kata manajer proyek MMX, Yasuhiro Kawakatsu, kepada AFP.

Amati Deimos

Selain Phobos, MMX akan mengamati Deimos, satelit alami Mars lainnya. Namun, wahana tersebut tidak akan mendarat di Deimos sebelum kembali ke Bumi.

JAXA juga berharap misi ini dapat membantu mempersiapkan eksplorasi Mars oleh manusia pada masa mendatang, termasuk dengan mengkaji kemungkinan pemanfaatan Phobos sebagai stasiun luar angkasa alami.

Sampel dari Phobos tersbut selanjutnya diharapkan dapat membantu menjelaskan bagaimana Mars dan kedua satelit alaminya terbentuk.

Informasi tersebut penting untuk memahami proses pembentukan Tata Surya. Ada dua teori utama mengenai asal-usul Phobos dan Deimos.

Teori pertama, yang dikenal sebagai hipotesis tumbukan besar (giant impact), menyebut kedua satelit itu terbentuk setelah sebuah benda langit bertabrakan dengan Mars. zi Sementara itu, teori penangkapan (capture) menyatakan bahwa Phobos dan Deimos merupakan asteroid yang tertangkap oleh gravitasi Mars.

Menentukan teori mana yang benar dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana lingkungan yang mendukung kehidupan mungkin terbentuk di planet-planet berbatu, yakni Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.

“MMX akan menjelaskan mekanisme transportasi yang membawa air, zat volatil, dan senyawa organik dari Tata Surya bagian luar ke wilayah bagian dalam yang dihuni planet-planet berbatu.

Proses-proses ini mungkin berperan penting dalam membuat planet-planet tersebut layak huni,” kata Patrick Michel, astrofisikawan Perancis yang terlibat dalam proyek IDEFIX.

Michel mengatakan, jika Phobos dan Deimos memang merupakan sisa-sisa sistem pengiriman material pada masa awal Tata Surya, keduanya mungkin menyimpan petunjuk tentang asal-usul kehidupan.

Lebih tepatnya, sampel tersebut dapat membantu mengungkap bagaimana material yang berperan dalam kemunculan kehidupan di planet berbatu berpindah ke wilayah Tata Surya bagian dalam.

Misi MMX ini melibatkan Pusat Nasional Studi Antariksa Perancis (CNES), Pusat Dirgantara Jerman (DLR), Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Badan Antariksa Eropa (ESA), serta sekitar 20 universitas dan perusahaan teknologi.

Tantangan

Salah satu tantangan dalam pengembangan wahana ini adalah pembuatan kaki pendaratan. Menurut para ilmuwan JAXA, gravitasi di Phobos sangat lemah sehingga pendaratan memerlukan perancangan khusus.

Jepang sebelumnya juga pernah menghadapi tantangan dalam pendaratan di benda langit. Pada 2024, wahana nirawak Smart Lander for Investigating Moon (SLIM), yang dijuluki “Moon Sniper”, terbalik setelah mendarat di Bulan.

Meski demikian, wahana tersebut tetap mengirimkan data dan bertahan melewati beberapa malam lunar yang masing-masing berlangsung sekitar dua pekan.

Jepang juga memiliki pengalaman membawa sampel dari luar angkasa melalui misi Hayabusa-2 milik JAXA. Wahana nirawak tersebut berhasil membawa pulang 5,4 gram batuan dan debu dari sebuah asteroid pada 2020.

Namun, misi MMX menghadapi tantangan berbeda karena harus mendekati Mars dan kembali ke Bumi, sehingga wahana harus mampu mengatasi tarikan gravitasi planet tersebut. (kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here