JAKARTA, KBKNEWS.id – Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 11,57 persen ke level 5.185,11 pada perdagangan Jumat (16/10/2026) memunculkan sorotan terhadap kepercayaan investor dan pengelolaan keuangan negara pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurrahman, menilai penurunan IHSG tidak semata-mata dipicu oleh sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia.
Gejolak tersebut juga mencerminkan persoalan transparansi kepemilikan saham, kewajaran pembentukan harga, serta ketegasan pengawasan pasar.
“MSCI menjadi pemicu investor menilai ulang risiko pasar Indonesia,” ujar Rizal dilansir JawaPos.com, Senin (19/10).
Meski demikian, Rizal mengingatkan bahwa anjloknya IHSG belum otomatis menandakan krisis ekonomi sistemik. Risiko dapat meningkat apabila tekanan pasar saham turut memengaruhi nilai tukar rupiah, biaya pembiayaan, investasi, hingga lapangan kerja.
Selain tata kelola pasar modal, Rizal menyoroti risiko fiskal dari pembiayaan program prioritas pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes).
Menurutnya, risiko kedua program tersebut bergantung pada kesinambungan pendanaan, kualitas pelaksanaan, serta manfaat ekonomi yang dihasilkan. Perluasan program tanpa kesiapan yang memadai berpotensi menambah kewajiban negara dan menggeser anggaran dari belanja produktif.
Rizal menjelaskan, kesehatan fiskal perlu diukur melalui sejumlah indikator, seperti rasio bunga utang terhadap pendapatan negara, keseimbangan primer, kebutuhan pembiayaan, premi risiko Surat Berharga Negara (SBN), serta kewajiban penjaminan.
Ia menegaskan, keberhasilan program pemerintah tidak cukup dinilai dari besarnya anggaran yang terserap. Pemerintah perlu membuktikan dampak nyata MBG terhadap perbaikan gizi masyarakat dan Kopdes terhadap peningkatan kemandirian usaha.




