Karo-Gunung Sinabung di Sumatera Utara sampai saat ini masih terus memuntahkan debu vulkanik, awan panas dan lahar panas.
Kondisi ini membuat aktifitas masyarakat di lereng Gunung Sinabung tak efektif seperti biasanya. Selain itu, aktivitas erupsi Sinabung terus meningkat sehingga mengancam ternak dan lahan pertanian setempat.
Kepala Bidang Penyelidikan dan Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), I Gede Suwantika mengatakan, kondisi ini diperkirakan masih akan terus terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Erupsi yang intens terjadi belakangan ini, jelas dia, merupakan bentuk pembebasan energi vulkanik yang terjadi di dalam perut Sinabung.
Untuk menyelamatkan dan mengamankan penduduk dari bahaya erupsi Sinabung, pihak PVMBG telah memberikan rekomendasi untuk tidak beraktivitas di dalam radius yang sudah ditentukan.
“Radius yang sudah kita ditentukan itu, dari Selatan sampai Tenggara 7 kilometer, dari Tenggara sampai Timur 6 kilometer, dari Timur ke Utara 4 kilometer dan Utara ke Selatan 3 kilometer,” katanya seperti dilaporkan Elshinta, Kamis (25/8).
Aturan tersebut,katanya, akan terus berlaku hingga Gunung Sinabung selesai erupsi.
Hingga saat ini, lanjut I Gede, terdapat 2.592 kepala keluarga atau 9.318 jiwa yang mengungsi di sembilan posko penampungan. Pengungsi berasal dari sembilan desa yang berada di sekitar zona merah yang berbahaya dari erupsi Gunung Sinabung.
Menurut I Gede, letusan yang terjadi berangsur-angsur ini lebih mengecilkan risiko besar yang diakibatkan Sinabung. Sebab, kata dia, jika terjadi letusan besar dengan muntahan material dan lahar sekaligus, maka akan lebih merepotkan.





