JENEWA – Duta Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura mengatakan kekerasan di Suriah memperlihatkan penurunan secara berarti dalam 24 jam sejak gencatan senjata diberlakukan.
Meskipun demikian masih terdapat sejumlah kekerasan setelah matahari terbenam pada Senin (12/9/2016), pada pagi dini hari, hampir tidak terdengar suara tembakan dan sejumlah truk bantuan PBB seharusnya dapat bergerak dengan segera jika pemerintah Suriah mengeluarkan izin, katanya.
“Hari ini tampak tenang di Hama, Latakia, Aleppo dan pinggiran Aleppo serta Idlib, dengan hanya sedikit kegiatan setempat dan sejumlah kejadian kecil,” kata de Mistura di Jenewa, Swiss, seperti diberitakan Antara, Rabu (14/9/2016).
“Sejumlah sumber di lapangan, yang melakukan kegiatan, termasuk yang ada di Aleppo, mengatakan bahwa keadaan meningkat dengan tidak ketiadaan serangan udara,” katanya.
Selain itu Damaskus dan Suriah tengah juga dalam keadaan tenang namun terdapat beberapa laporan adanya bentrokan antara pasukan pemerintah dengan oposisi di sekitar Harasta dan adanya pertempuran di Quneitra antara pasukan pemerintah dengan Front Nusra, sebuah kelompok yang tidak diikutsertakan dalam gencatan senjata dan telah merubah nama kelompoknya dengan nama Jabhat Fateh Al Sham.
Sejumlah bagian yang rentan dalam kesepakatan itu adalah untuk mencegah pertempuran membesar dan untuk memisahkan para kelompok oposisi bersenjata yang memantai gencatan senjata itu dari mereka yang tidak, terutama kelompok militan Jabhat Fateh Al Sham yang kuat.
De Mistura mengatakan bahwa itu perlu diselesaikan dalam kurun waktu satu minggu, yang dapat menjadi satu tantangan. Jika terjadi gencatan senjata dan bantuan PBB dapat dikerahkan dengan sesegera mungkin, penduduk Suriah dapat melihat “tidak ada lagi bom dan lebih banyak truk,” ujar de Mistura.





