
BANDUNG – Memiliki kekurangan fisik bukan berarti menyerah melengkapi tuntutan hidup dan tidak dapat membantu sesama. Hal ini dibuktikan kaum difabel yang tergabung di kreativitas Komunitas Kreatif Difabel (KKD) di Jalan Babakan Sari II, Kiaracondong, Bandung.
Para penyandang difabel di KKD ini memiliki usaha untuk menambah nafkah dan modal membuat kaki palsu. Salah satunya adalah berjualan beras dan membuat kaki dan tangan palsu.
Hasil dari penjualan beras juga tidak semata digunakan untuk memnuhui kebutuhan hidup para difabel, melainkan untuk disumbangkan guna pembuatan kaki palsu. Hal tersbeut terlihat dari papan nama di Gudang KKD yang terpampang tulisan “50% dari penjualan beras disumbangkan untuk pembuatan kaki palsu”.
Komunitas Kreatif Difabel bisa dibilang menjadi pionir gerakan pemberdayaan penyandang difabel di Kota Bandung yang dibentuk pada 2010. Anwar Permana atau biasa dipanggil ‘Oju’ sebagai salah satu pendiri mengungkapkan awal berdirinya kelompok ini, “Kalau beli kaki itu kan mahal. Jadi kita memiliki ide, ayo bikin sendiri untuk yang lebih terjangkau pada sekitar 2010,” ujar Oju, seperti dilansir Republika.co.id, Rabu (5/10/2016).
Ia menambahkan jika kelompok ini didirikan atas dasar tanggung jawab kepada sesama penyandang difabel yang selama ini cenderung dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
Oju mengaku, usaha pembuatan kaki dan tangan tiruannya dimulainya ketika dia menyadari begitu mahalnya kaki dan tangan palsu yang beredar di pasaran dan rumah sakit. Harga yang ditawarkan oleh merek dagang terkenal bisa mencapai Rp 10 juta hingga Rp 50 juta per unit.
Harga yang ditawarkan oleh KKD untuk per unit tangan dan kaki palsu berkisar antara Rp 4 juta hingga Rp 8 juta, jauh di bawah rata-rata harga pada umumnya.
Bersama Yusuf Suhara atau akrab disapa Jon yang saat itu menjadi sales tangan tiruan di Jakarta, tahun 2010 mereka sepakat mendirikan KKD dengan tujuan memberdayakan penyandang difabel. Selain Oju dan Jon, ada dua pengurus lainnya di KKD yaitu Indra Semedi sebagai kepala produksi dan Iwan Ridwan sebagai bendahara.
Kendati seluruh anggota KKD merupakan difabel, masyarakat umum dapat menimba arti kehidupan kepada mereka bahwa mereka juga sama dengan manusia normal pada umumnya, yaitu giat bekerja dan ide kreatif.
Intinya bagi Oju dan kawan-kawannya usaha yang mereka bentuk bertujuan untuk mencari nafkah, juga berfokus membantu difabel yang tidak mampu secara ekonomi guna mendapatkan kaki tiruan bantuan. Dari penjualan tiga hingga empat set tangan atau kaki tiruan, KKD dapat membuat satu set untuk dibagi secara gratis kepada yang membutuhkan.
Sejak berdiri pada 2010 hingga kini, komunitas telah memberi sekitar 200-an kaki atau tangan gratis kepada yang masyarakat difabel. KKD sendiri menjadi pendorong bagi komunitas difabel di provinsi lain untuk melakukan pemberdayaan. “Kami juga mendirikan koordinator cabang di beberapa kota di Indonesia seperti di Merauke Papua, Aceh bahkan Nunukan,” ujar Oju.




