Menkeu Sri Mulyani Kelola Emosi dalam Entaskan Kemiskinan

Menteri Keuangan Sri Mulyani/ Reuters

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan tugas menteri keuangan adalah mengelola emosi dalam mengentaskan kemiskinan yang sangat sensitif.

Ia menambahkan perlu adanya desain belanja negara yang efektif dan tepat sasaran demi mengentaskan kemiskinan dan kesenjangan.

“Kita ingin membuat pembangunan ekonomi yang betul-betul dapat mengatasi kemiskinan dan kesenjangan dengan belanja APBN yang ditujukan untuk pemenuhan jasa yang sifatnya dasar yakni pendidikan, kesehatan, air minum, dan sanitasi,” kata Sri, seperti dilansir Antara, Selasa (18/10/2016).

Menurutnya meskipun pemerintah telah menambah anggaran pendidikan menjadi sekitar Rp400 triliun dan anggaran kesehatan Rp100 triliun pada 2016, namun belum bisa menjawab tantangan kemiskinan di mana tercatat 50 ribu kelas rusak berat dan 30 persen anak mengalami kurang gizi.

Karena itu, desain pembangunan perlu dirancang dengan pemikiran yang sungguh-sungguh disertasi komitmen jangka panjang.

Dalam acara “Supermentor16: End Poverty” di Jakarta, Senin (17/10/2016) malam, Sri mengungkapkan membuat kebijakan publik untuk mengentaskan 28,6 juta penduduk miskin dan 62 juta penduduk rentan kemiskinan adalah pilihan yang penuh dengan kesulitan.

Menurut dia, setiap keputusan yang diambil Menteri Keuangan untuk memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan betul-betul dinikmati masyarakat miskin selalu melibatkan emosi masyarakat.

“Menjadi Menteri Keuangan adalah menteri yang mengelola emosi,” tutur mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia.

Oleh karena itu, selain menjaga nurani dan integritas sebagai pejabat negara, Sri Mulyani juga meminta kontribusi masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan, salah satunya melalui pengawasan yang objektif terhadap setiap kebijakan pemerintah.

“Awasi dengan kritis, dilihat secara benar, dan berikan masukan. Masyarakat harus yakin bahwa Rp2.000 triliun uang negara (APBN) dibelanjakan dengan baik, benar, dan penuh amanah,” tuturnya.

Advertisement