JAKARTA – Setelah Donald Trump menang sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) membuat pemerintah Indonesia memantau warga negara Indonesia (WNI) yang berada disana.
“Kami masih memantau apa yang akan terjadi nanti setelah pelantikan. Tapi Menlu dan perwakilan juga sudah bersinergi untuk memantau para WNI kita di AS. WNI di AS terhitung cukup banyak,” ungkap Kepala BPPK Direktorat Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Leonard Hutabarat, di Jakarta, Sabtu (12/11/2016).
Trump kerap melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial saat berkampanye, salah satunya menolak Muslim memasuki AS.
Retorika kampanye ini tentu membuat khawatir sejumlah negara dengan mayoritas penduduk Muslim, seperti Indonesia.
Leonard menilai, terkadang retorika kampanye berbeda dengan saat pemerintahan nanti berjalan. Dalam politik, AS juga perlu merangkul negara-negara Muslim.
“Saya rasa mereka harus hati-hati dengan kebijakan ini. Tak bisa serta merta lalu diputuskan begitu saja. Padahal sebelumnya tak ada kebijakan seperti itu,” katanya lagi, dikutip dari metrotvnews.
Indonesia sendiri masih meraba akan mengarah ke mana pemerintahan baru AS di bawah kepemimpinan Trump ini. Sementara, AS sendiri punya kepentingan dengan Indonesia, begitu pun sebaliknya.
“Mereka juga melihat bahwa Indonesia potensial. Apalagi mereka itu kan juga multikultural, sama seperti Indonesia,” ucapnya.
Terkait AS dikabarkan akan menarik diri dari politik luar negeri begitu dipimpin Trump, Leonard juga mengatakan bahwa hal tersebut tak bisa diimplementasikan ke pemerintahan AS.
“AS itu punya pengaruh yang besar di dunia internasional. Apa iya mereka akan langsung mengubah itu? Kawasan internasional akan terjadi adanya kevakuman pasti,” pungkasnya.





