ACEH – Meski anak berusia 11 tahun bernama Aliya selamat setelah tertimpa reruntuhan gempa, namun ia harus kehilangan ayah dan ibunya yang tidak dapat terselamatkan.
Ibrahim, ayah Aliya, ditemukan terlebih dahulu sekitar empat jam setelah gempa danĀ nyawanya tidak tertolong. Sementara Mariani, sang bunda ditemukan dalam keadaan selamat pada siang harinya. Dia terjebak di antara reruntuhan bongkahan rumah ruko berlantai dua yang dijadikan tempat tinggal sekaligus berniaga pakaian, di kawasan Ulee Glee, Pidie Jaya. Namun beberapa jam kemudian, Mariani mengikuti jejak sang suami menghembuskan napas terakhir.
Beruntung, Aliya tidak sendiri karena ia masih memiliki kakak Sukia Rahmah (26), yangdapat menggantikan sosok ibu baginya. Sukia mengatakan, pada saat gempaĀ yang mengguncang pada subuh 7 Desember itu, dia sedang di Banda Aceh. Dia kemudian langsung pulang ke rumahnya di Pidie Jaya.
Ditambahkannya jika adik bungsunya itu berada di dalam kamar di ruko, sendirian dan sempat pingsan.
“Dia (Aliya) kerasa gempa, goyang – goyang, terus dia jatuh dari tempat tidur, pingsan katanya,” kata Sukia.
Mendengar kerasnya deru sirine mobil ambulans di jalanan, Aliya tersadar dan berusaha keluar dari reruntuhan bangunan yang menimpa, “Pas dia buka mata, nampak cahaya putih dari sela-sela itu (reruntuhan). Bangun dia, dia ikuti, sampai dia keluar dari swalayan sebelah, sampai orang itu kaget, kok ada anak kecil di sini,” ujar Sukia.
Aliya kemudian diselamatkan tim Basarnas. Dia lalu mengatakan kepada tim Basarnas, ayah dan ibunya masih berada di dalam reruntuhan. “Setelah itu baru datang beko, tarik ayah sama mamak,” kata Sukia.
Sukia mengatakan, kondisi Aliya saat ini sudah stabil. Adiknya itu sempat trauma saat melihat jenazah sang ayah.





