Bahasa dan Bangsa adalah Satu

Mengapa bahasa Indonesia yang dipilih sebagai bahasa persatuan dalam kongres pemuda yang melahirkan Sumpah Oktober 28 Oktober 1928? Mengapa bukan bahasa Jawa, yang jumlah pengunanya terbesar di antara suku-suku bangsa penduduk Hindia Belanda (nama yang dipakai Belanda) waktu itu? Siapakah tokoh yang mula pertama memelopori lahirnya bahasa Indonesia?

Untuk pertanyaan ketiga tersedia jawaban yang oleh sejumlah pihak masih dianggap asumsi atau tuduhan: para sastrawan asal Minangkabau, Sumatera Barat, yang sedang berjaya di Balai Pustaka, terutama yang sangat menonjol adalah Muhammad Yamin dan Sutan Takdir Alisyahbana (STA).

Padahal, menurut Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (ASM), yang lebih populer dipanggil Buya Syafii, jauh sebelum Yamin dan kawan-kawannya memelopori bahasa Indonesia secara resmi, Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa dan Bapak Pendidikan Nasional, sudah mengusulkan agar bahasa Melayu menjadi bahasa Nusantara.

Itu terjadi sekitar tahun 1916/1917, tulis Buya Syafi dalam bukunya “Islam dalam bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”, edisi revisi 2015. Buya, yang “urang awak”, tapi lama tinggal di Yogyakarta, menyebut Ki Hajar sebagai tokoh sentral dari sub-kultur Jawa yang lebih awal memperjuangkan bahasa Indonesia daripada sastrawan Minang.
Ki Hajar dikutip Buya sebagai pengritik pendapat sahabatnya, Tjipto Mangunkusumo, yang dianggap ingin membunuh bahasa Jawa. Ki Hajar dan Tjipto adalah sesama pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang berasal dari suku dan sub-kultur Jawa.
Tjipto, yang kemudian terkenal sebagai dokter dan namanya diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Pusat RSTM (sekarangRSCM) Jakarta itu berpendapat bahwa bahasa Jawa adalah bahasa budak dan harus diganti dengan bahasa Belanda.

Ki Hajar, menurut Buya,dengan nada agak marah menanggapi pendapat Tjipto dengan menulis sbb:

“Bahasa dan bangsa adalah satu. Adalah tidak wajar untuk membunuh suatu bahasa secara dibuat-buat guna memberi tempat kepada suatu bahasa asing yang baru. Dan oleh karena bahasa Jawa dipergunakan oleh sekitar 20 juta orang Jawa, adalah terlalu gegabah untuk membicarakan tentang matinya bahasa yang indah itu. Jika kita menghendaki adanya satu bahasa untuk bangsa Hindia seluruhnya, janganlah memaksa kita untuk menerima bahasa asing, sebab kita mempunyai bahasa Melayu, yang tidak saja mudah dipelajari, melainkan kini juga telah menjadi lingua franca di Nusantara”.

Tjipto dikenal sebagai seorang radikal, sementara Ki Hajar berpenampilan tenang, sabar dan reflektif. Tjipto ingin membunuh bahasa ibunya itu karena nampaknya ia sudah muak dengan apa yang disebut tradisi feodal. Ia dinilai tidak realistik untuk menukar bahasa Jawa dengan bahasa Belanda.

Buya mendukung ungkapan Ki Hajar bahwa bangsa dan bahasa adalah satu. Alasannya, dengan mengganti bahasa Jawa dengan bahasa Belanda bisa berakibat punahnya bangsa Jawa dalam makna kultural dan kejiwaan.

Ki Hajar, yang aslinya seorang bangsawan kraton Jawa, memberi solusi yang sangat bijak dan penting bagi persatuan Indonesia. Ia berpendapat biar bahasa Jawa tetap bertahan untuk suku Jawa atau suku lain yang ingin mempelajari dan menggunakannya, sedangkan untuk bahasa persatuan telah tersedia bahasa Melayu.

Bahasa Jawa adalah bahasa tua yang kosakatanya melebihi bahasa Melayu, tapi harus diakui untuk proses demokrasi bahasa Jawa akan mengalami banyak kendala. Struktur bahasa Jawa memang berlatar belakang feodal, berlapis-lapis. Ada bahasa “ngoko” untuk orang tua kepada anak atau yang lebih muda dan orang yang sederajat. Contohnya penggunaan sebutan “kowe” (kamu). Ada bahasa “kromo inggil” untuk orang muda kepada orang yang lebih tua dan lebih tinggi derajat dan pangkatnya. Ini pun juga berlapis-lapis, mulai dari untuk orang tua, guru sampai dengan raja.

Jika Yamin dan STA dikenal gigih membela bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan itu wajar, sebab mereka lahir dari sub-kultur Melayu. (KBK).

Advertisement