Ayah, Ibu dan Adik Tewas Akibat Gempa, Kini Agam Seorang Diri

Zainul Abdillah atau agam yang ditinggal ayah, ibu dan adik akibat gempa Pidie jaya/ Serambi Indonesia

ACEH – Zainul Abdillah (14), bocah Meunasah Kuta Geulumpang, Desa Teupien Peuraho, Kecamatan Meureudu kini harus tegar menjalani hidup seorang diri dan sebatang kara, setelah kedua orang tua dan dua adiknya meninggal dunia akibat gempa berkekuatan 6,5 SR di Pidie Jaya Aceh.

Gempa telah merenggut ayah dan ibundanya, M Nur dan Siti Syahrum, termasuk dua adiknya, Mauliza Intan Sofya (9) dan Nur Azizah (4).

Ditemui Serambi Indonesia,  murid kelas II SMP yang akrab disapa Agam tersebut terlihat menyimpan kesedihan yang begitu mendalam. Ia kehilangan orang yang paling ia cintai. Lidahnya kelu, tak mampu berkata-kata, Agam tampak sangat merindukan kehadiran kembali kedua orang tua dan dua adik di sisinya.

Dengan banyak diam, ia hanya menjawab apa yang ditanya. “Nyoe, ayah ngon mak, dua adek lon meninggai watee gempa barosa (Betul, ayah, ibu, dua adik saya meninggal akibat gempa kemarin),” kata Agam.

Agam menuturkan, selama ini ia bersama orang tua dan adiknya tinggal di sebuah rumah toko (ruko) di pinggir Jalan Nasional Banda Aceh-Medan. Gempa merobohkan ‘istana’ mereka, lenyap rata dengan tanah.

Dikisahkannya, kala itu kedua orang tua dan adiknya tidur di kamar lantai satu, sedangkan Agam memilih tidur di atas di depan TV. “Saya juga ada rencana mau tidur sama ayah, ibu, dan adik-adik, tapi seperti nggak enak badan, akhirnya saya naik ke atas tidur di depan tivi,” ujarnya.

Saat ada guncangan gempa, Agam terbangun dan panik. Dalam gelap ia berusaha tenang dan sempat memanggil orang tuanya, hingga akhirnya bangunan itu roboh. Ia ikut roboh dan tertimbun. Beruntung Agam tak begitu parah dan ia masih bisa diselamatkan saat evakuasi. “Saya sempat berpikir mereka (orang tua dan adik-adik saya) di bawah berhasil menyelamatkan diri,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Agam mengaku baru mengetahui kedua orangtua dan adik-adiknya sudah tidak ada lagi saat dirinya dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Dia terlihat tak mampu lagi bicara ketika membayangkan itu.

Kini, Agam harus menanggung kesedihan dan berjuang menghapus luka mendalam di hatinya. Ia akan menjalani hidup tanpa kehadiran orang-orang yang ia cintai. Namun, Agam tampak tegar, ia tetap akan menjalani hidup ini dengan segenggam amanah yang telah disampaikan orang tuanya kepada dirinya, Agam ingin tetap sekolah dan mengaji.

Beruntung kini ia akan tinggal bersama sang paman, M Dahli, yang mengatakan jika semua saudara almarhum ayah dan ibu Agam akan tetap memberi perhatian khusus kepada Agam.

“Insya Allah dia tinggal bersama kami, dia akan melanjutkan sekolahnya seperti biasa. Ada pesan orang tuanya kepada kami, Agam harus menjadi anak terpelajar, sekolah dan mengaji,” pungkas M Dahli, dilansir Serambi Indonesia, Sabtu (17/12/2016).

Advertisement