Ketika Mantan Napi Ajak Narapidana untuk Berhijrah

rutan
suasana seminar hijrah ekstreme di Rutan Pondk Bambu. foto Aditya KBK

JAKARTA (KBK) – Salah satu ruang di lantai tiga Rutan Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur siang itu tampak lebih ramai dari biasanya. Rupanya keramaian tersebut berasal dari ruang fitnes para sipir penjara yang sedang diubah menjadi aula dadakan. Didalamnya terdapat puluhan narapidana yang tengah duduk bersila sambil asik mendengarkan seminar bertajuk hijrah ekstreme yang dilanjutkan dengan peluncuran buku Hijrah Ekstreme.

Tak sedikit juga diantara mereka yang tiba-tiba tersipu malu dan menutupi wajahnya ketika awak media ikut bergabung mengikuti rangkaian seminar. Namun “ketegangan” itu langsung mencair ketika Mirani Mauliza, penulis buku hijrah ekstreme yang tengah menjadi pembicara melontarkan beberapa pertanyaan menggelitik yang mewakili isi hati para tahanan.

“Di sini siapa yang masih punya suami, siapa yang masih punya selingkuhan,” tanya Mirani yang langsung disambut sahutan serta acungan tangan para tahanan dalam suasana riang gembira.

 

para tahanan Rutan Pondok bambu ketika mengikuti seminar Hijrah ekstreme. foto Aditya KBK
para tahanan Rutan Pondok bambu ketika mengikuti seminar Hijrah ekstreme. foto Aditya KBK

 

Kepada KBK, selasa (20/12) Mirani yang merupakan mantan narapidana kasus penipuan dana investor mengungkapkan seminar yang digelar olehnya bertujuan membangkitkan rasa percaya diri para tahanan yang notabene telah dicap negatif oleh lingkungan sekitar. Dalam seminar tersebut Mirain juga tak henti-hentinya mengajak para tahanan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara berhijrah.

“Saya pun merasa tidak lebih baik dari para teman-teman, untuk menjadi pribadi yang baik kuncinya hanya satu. Kita harus segera minta maaf kepada ibu kita, karena ibu merupakan seorang  yang mulia. Restu Allah tergantung dengan restu sang ibu,” ucap Mirani yang pernah mendekam di balik jeruji besi Rutan Pekanbaru, Riau selama 8 bulan.

Ajakan Mirani tersebut ternyata mampu mengetuk hati para tahanan, seperti D tahanan kasus penipunan yang divonis 10 tahun penjara yang tidak henti-hentinya menitikan air mata, tisu putih yang dibawanya pun basah dalam sekejab. Tidak hanya D, hal serupa juga dialami puluhan tahanan lainnya yang tampak menyesal sambil mengusap air mata dari wajahnya

Selain Mirani, juga hadir dalam seminar tersebut artis Peggy Melati Sukma yang turut membimbing para tahanan ke jalan yang lebih baik. Bagi Peggy para tahanan merupakan aset negara yang harus dipersiapkan mutunya, sehingga ketika bebas kelak dapat bermanfaat dan hilang kesan negativnya di mata masyarakat.

“Tantangan kehidupan di rutan itu adalah memanusiakan manusia. Bagi saya mereka tidak dibuang. Selama di rutan mereka hanya perlu diisi dengan nilai-nilai kemanusiaan yang baik,” jelas Peggy diiringi tepuk tangan tahanan.

 

Mirani dan Peggy mengikuti sesi foto bersama tahanan rutan. Foto Aditya KBK
Mirani dan Peggy mengikuti sesi foto bersama tahanan rutan. Foto Aditya KBK

 

Ika kepala Rutan Wanita Pondok Bambu dalam paparannya menyampaikan bahwa pilihan untuk menjadi manusia yang baik terdapat pada pribadi masing-masing. Ika berharap supaya setelah bebas para tahanan menjadi seorang yang memiliki banyak nilai jual.

“Saya yakin tuhan sudah mengatur sedemikian rupa, bahwa ini bukan suatu yang kebetulan. Saya yakin rencana Allah tidak ada yang buruk buat kita. Tinggal kita yang menyikapinya apakah kita menjadi nol lalu keluar dari sini menjadi mines. Saya mau teman-teman keluar dari sini harus mengambil hikmah dan menjadi pribadi yang plush-plush plush,” ujar Ika.

 

Ika saat menyampaikan pesan kepada para tahanan. Foto Aditya KBK
Ika saat menyampaikan pesan kepada para tahanan. Foto Aditya KBK

 

Advertisement