JAKARTA – Perbankan adalah sasaran para peretas siber sepanjang tahun 2016.
Kesimpulan itu disampaikan salah satu perusahaan keamanan siber global yang melakukan penelitian.
“Serangan siber pada 2016 terbanyak berhubungan dengan uang, khususnya menyasar perbankan dengan meretas sistem ATM serta penggunaan telepon pintar untuk layanan perbankan,” ungkap penelitian tersebut yang disampaikan kepada wartawan di Jakarta, Jumat (23/12/2016).
Dikatakan, sebesar 36 persen serangan perbankan daring menargetkan perangkat Android, meningkat tajam dari hanya delapan persen pada 2015.
Malware yang menyasar ATM juga meningkat 20 persen dibandingkan pada 2015.
Penelitian yang dilakukan Kaspersky Lab itu melaporkan penyerang memanfaatkan “Google Play Store” untuk mendistribusikan malware Android dengan aplikasi yang terinfeksi dan diunduh hingga ratusan ribu kali.
“Jumlah dan jenis serangan siber serta korban mereka pada 2016 membuat pendeteksian yang lebih baik dan berada pada daftar teratas dari prioritas bisnis,” kata Kepala Peneliti Keamanan Kaspersky Lab David Emm.
Terkait penanganan, penelitian itu menemukan 28,7 persen perusahaan memerlukan beberapa hari untuk menemukan adanya insiden keamanan, sementara 19 persen memerlukan beberapa minggu atau bahkan lebih.
Dikutip dari Antara, sebagian kecil tetapi cukup signifikan sebesar 7,1 persen membutuhkan waktu berbulan-bulan dan sisanya baru menemukan melalui audit keamanan eksternal maupun internal atau peringatan dari pihak ketiga, seperti klien atau pelanggan.





