JAKARTA—Setidaknya ada lima hal yang menjadi fokus Kementerian Sosial (Kemensos) selama perpanjangan masa tanggap darurat banjir Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Semunya terkait pada pemulihan korban banjir.
Disampaikan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos, Harry Hikmat, Selasa (10/1/2017), fokus pertama adalah mengoptimalisasi dapur umum dengan memusatkan pelayanan hanya di kantor Wali Kota Bima. Ia mengatakan, hal tersebut bertujuan untuk memfokuskan dalam melayani pengungsi yang masih berada di pengungsian. Selama penanganan korban banjir Bima, dikatakan Harry, tim Kemensos mengelola 15 dapur umum. Masing-masing, berada di kantor Wali Kota Bima dan Masjid Baru Bima di Kecamatan Tanjung.
Kedua, memastikan korban yang rumahnya rusak berat memperoleh jaminan hidup, peralatan rumah tangga, dan pembangunan rumah. Total jaminan hidup yang telah diberikan Kemensos, yakni sebesar Rp 1,32 miliar. Masing-masing, senilai Rp 1,2 miliar kepada 1.335 jiwa di Kota Bima dan Rp 120,6 juta kepada 134 jiwa di Kabupaten Bima.
Dijelaskannya, korban banjir memperoleh Rp 900 ribu untuk masing-masing jiwa selama tiga bulan. Sedangkan santunan korban telah disalurkan senilai Rp 85 juta. Rinciannya, santunan 4 korban meninggal masing-masing Rp15 juta, serta santunan untuk 10 korban luka berat masing-masing Rp 2,5 juta.
Ketiga, Kemensos melakukan assesment bagi masyarakat yang masing tinggal di pengungsian. Keempat, optimalisasi gerakan kerelawanan sosial untuk bakti sosial pembersihan lingkungan rumah, sarana pendidikan, sarana kesehatan, dan fasilitas sosial. Kelima, melakukan rotasi anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) dengan mengerahkan dari kabupaten terdekat dengan Kota Bima.





