AGAKNYA sulit diterima akal sehat, lingkungan pendidikan hanyut dalam pusaran aksi kekerasan berujung maut, sedangkan pelaku dan korbannya sesama pelajar atau mahasiswa, yang notabene adalah anak didik sekaligus kader penerus bangsa.
Tetapi itu lah fakta yang terjadi di negeri ini. Masih segar dalam ingatan publik, baru saja dunia pendidikan berduka akibat tewasnya taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara, Amirullah Adityas Putra (18) akibat dianiaya seniornya sekitar dua pekan lalu (1/10).
Tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Angkatan 2015 yakni Muhammad Fadhli (Fak. Elektro), Syaits Asyam (Fak. Tehnik Industri dan Ilham Listia Adi (Fak. Hukum) tewas, diduga dianiaya seniornya saat mengikuti program “the Great Camping” yang diselenggarakan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) .
Ketiga korban adalah bagian dari 37 peserta (34 pria dan tiga perempuan) program Pendidikan Dasar Mapala yang digelar di lereng selatan Gunung Lawu, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 13 – 22 Januari lalu.
Fadhli meregang nyawa saat dilarikan ke RS Karanganyar, Jumat (20/1). Sejauh ini belum diketahui penyebab kematiannya, sedangkan hasil otopsi masih dinanti dari Polres Karanganyar.
Sedangkan Asyam menghembuskan nafas setelah masuk RS Bethesda, Yogyakarta Sabtu (21/1) pagi. Ia dinyatakan meninggal pada siang harinya, pukul 14.45 akibat mengalami pneumonia (radang paru) dan respiratory arrest ( gagal nafas).
Korban ketiga, Ilham Listia Adi (20) yang dibawa ke RS Bethesda pada Senin (23/1) pukul 09.39 pagi menutup mata malam harinya pukul 23.20.
Saat tiba di RS, Ilham dilaporkan dalam keadaan pusat pasi, luka di dahi, kaki dan tangan, sedangkan kuku kakinya tampak nyaris terkelupas.
Menurut keterangan dokter, llham mengalami trauma abdomen dan cedera di bagian perut . Hal itu diperkuat bukti, sebelum meregang nyawa, pada siang harinya, korban mengalami pendarahan dari duburnya.
Sampai saat ini 10 dari 32 mahasiswa peserta program Mapala itu masih dirawat di Jogya Internasional Hospital (JIH) karena mengalami lecet di kaki atau tangan, gangguan penglihatan dan dislokasi sendi bahu dan lutut.
Prihatin
Presiden Joko Widodo mengungkapkan keprihatinannya atas kekerasan yang terjadi di sejumlah lembaga pendidikan termasuk UII dalam beberapa tahun terakhir ini. “Kasus seperti ini tidak boleh terulang lagi, “ ujarnya.
Menristek Muhammad Natsir menyesalkan segala bentuk tindak kekerasan, baik fisik maupun nonfisik di lingkungan kampus dan meminta pimpinan perguruan tinggi betanggung jawab memastikan terciptanya suasana akademik yang kondusif di kampus.
Sedangkan Guru Besar Fakultas Hukum UII Mahfud MD merasa terpukul atas terjadinya tragedi maut tersebut dan mendesak kepolisian dan pimpinan universitas mengambil tindakan tegas terhadap pelakunya.
“Peristiwa itu menciptakan citra buruk bagi Mapala UII dan mencoreng muka dunia pendidikan, “ ujarnya.
Mahfud MD juga menganggap, rektor dan jajaran pimpinan UII lainnya juga harus dimintai pertanggungan jawabnya atas terjadinya tragedi di dunia pendidikan itu.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi XDPR dari F-Partai Golkar Ferdiansyah yang menedesak pemerintah untuk mengenakan sanksi yang dapat membuat jera institusi pendidikan yang terlibat kekerasan.
“Pejabat yang bertanggungjawab bisa diusulkan untuk dipecat, sedangkan lembaga pendidikannya bisa dikenakan sanksi penurunan akreditas , “ tandas Ferdiansyah.
Buka-tutup acara
Ferdiansyah juga mengingatkan agar para rektor terutama wakilnya yang membidangi urusan kemahasiswaan tidak hanya hadir dalam acara seremonial, untuk membuka atau menutup program, tetapi harus memastikan tidak ada aksi kekerasan di balik kegiatan mahasiswanya.
Rektor UII Harsoyo cuma menyampaikan pernyataan-pernyataan normatif seperti mengenai pembentukan tim investigasi guna mengusut kasus itu secara obyektif dan menjatuhkan sanksi terhadap pihak yang bertanggungjawab.
Harsoyo semula juga menyatakan tidak ada persoalan terkait program “the Great Camping” yang diselenggarakan tim Mapala UII itu sampai ada laporan dari pihak keluarga korban kepada kepolisian setempat.
“Kegiatan dilakukan sepengetahuan universitas dan dilakukan sesuai prosedur. Peserta juga mengantongi ijin orang tua dan surat keterangan sehat dari dokter.
Sebelum dan setelah melalui tahapan pendidikan dasar, kesehatan peserta juga diperiksa lagi oleh tim medis, “ kilahnya. Pertanyaannya, kenapa mereka meninggal Pak Rektor?
Selain ketiga mahasiwa UII tersebut dan juga taruna STIP Amirullah Adityas Putra yang tewas 10 Januari lalu, Kasus-kasus kekerasan oleh senior terhadap junior di lembaga pendidikan juga terjadi antara lain di IPDN Jatinangor beberapa kali, di Sekolah Polisi Negara Jambi dan Akademi Maritim Djadajat, Jakarta Utara.
Perlu aksi bersama dan komperhensif oleh segenap elite pemangku kepentingan di lingkup pendidikan dan parlemen untuk memotong mata rantai kekerasan di dunia pendidikan.





