MANILA (KBK) – Presiden Filipina Rodrigo Duterte memanggil kepala keamanan dan melakukan pertemuan mendadak bulan lalu.
Baik kepala militer dan Kepala Kepolisian diharapkan melakukan peran utama perang tanpa ampun pada obat-obatan terlarang.
Alasan Duterte marah karena polisi anti narkoba menculik dan membunuh seorang pengusaha dari Korea Selatan, Jee Ih-joo. Ia dicekik sampai mati di markasnya sendiri.
“Aku memerintahkanmu untuk membubarkan unit anti-narkoba, semua unit,” kata Duterte kepada Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana, pada pertemuan di istana presiden.
Duterte memutuskan membentuk Badan yang jauh lebih kecil Filipina Drug Enforcement (PDEA) akan mengambil alih tindakan keras terahadap pengedar narkoba dengan dukungan militer.
Ini adalah perubahan yang menakjubkan oleh Duterte, yang sampai saat itu berdiri di belakang kepolisian yang telah merenggut nyawa lebih dari 7.600 orang , sebagian besar pengedar obat bius dan penggunanya, dalam tujuh bulan.
Presiden Duterte telah berulang kali menantang himbauan PBB, Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk mengendalikan perang terhadap narkoba.
Dikutip dari Reuters, para pejabat keamanan mengatakan keberanian dari pembunuhan Jee Ih-joo adalah menggunakan alasan perang terhadap narkoba sebagai penutup untuk penculikan dan uang tebusan.





