Dengan piawinya, Njeng Sunan Kali meramu kidungnya dengan pembukaan yang pas untuk semua orang di setiap jaman, lebih-lebih waktu itu, yakni keselamatan. Islam sendiri bermakna selamat dan pasrah kepada kehendak Allah.
Kidung itu dibuka dengan kata-kata yang bermakna mistis, magis untuk menolak bala: penyakit, bencana dan gangguan makhluk halus. Guna-guna, tenung, teluh, santet, niat jahat, pencuri, binatang buas, senjata tajam, kayu dan tanah wingit dan hama penyakit semuanya menyingkir, tidak mempan. Perawan tua dapat segera dapat jodoh dan orang gila dapat sembuh. Semua musuh menjadi sayang, jatuh cinta kepada membaca kidung ini.
Maka tembang itu juga disebut sarira ayu (badan sehat segar, bugar, cantik). Pengidung dikelilingi bidadari, dijaga malaikat, semua rasul. Semua “manunggal”, menyatu dalam dirinya. Sejumlah nama nabi disebut: Adam sebagai hati, Syits sebagai otak, Musa sebagai ucapan, Isa sebagai nafas, Yakub sebagai telinga, Yusuf sebagai rupa, Daud sebagai suara, Sulaiman sebagai kesaktian, Ibrahim sebagai nyawa, Idris sebagai rambut, Nuh di jantung, Yunus di otot dan Muhammad (saw) sebagai mata/penglihatan.
Disebut juga nama para sahabat dan keluarga Muhammad telah menyatu dalam dirinya. Patimah (Fatimah) putri Nabi Muhammad sebagai sumsum, Baginda Ngali (Ali) kulit, Abubakar darah, Ngumar (Umar) daging dan Ngusman (Usman) sebagai tulangnya.
Penyebutan nama-nama dalam bait 3 sampai 5 itu, masih perlu tafsir atau penjelasan lebih luas, walau itu mungkin pemahaman atas pengalaman gaib pribadi, yang tidak bisa difahami orang lain, lebih-lebih bagi banyak orang sekarang. Setiap “salik” (pelaku suluk) mempunyai pengalaman masing-masing yang unik. Mungkin, nama-nama mulia itu disebut karena semangat, sifat dan karomah mereka agar masuk, merasuk dalam diri sang pengidung sebagai pelindung atau tolak bala, sesuai sikon lokal dan keperluan masyarakat saat itu, yakni keselamatan. Penyebutan nama itu mungkin juga dikaitkan dengan ungkapan; “Allah melihat, mendengar dan berucap dengan mata, telinga dan mulut saya”. Inti maknanya, merasuk Islam berarti terjaminnya keselamatan lahir-batin.
Penyebutan nama-nama itu jelas untuk mempermudah cara memperkenalkan malaikat, para nabi, Muhammad (saw), keluarga dan empat sahabatnya dalam penyebaran Islam kepada orang Jawa yang semula beragama Syiwa-Budha.
Kidung itu diyakini punya banyak kesaktian: mudah cari rezeki, jodoh, mudah mencari pekerjaan (mengabdi), mau terkena denda bebas dan yang punya hutang atau tidak jadi ditagih. Musuh menyingkir, semuannya takluk. Pokoknya, banyak deh, manfaatnya. Kalau tidak percaya, ya silahkan membaca sendiri!
Sunan Kali melalui kidung juga memperkenalkan beberapa surat dan ayat Al-Quran, yang dianggap ampuh. Di antaranya surat Al-Ikhlas, yang disebutnya Surat Kulhu, karena dibuka dengan Qulhu, surat An’Aam, yang disebut suratul Ngam Ngam. Maklum, orang Jawa dulu sulit mengucap bunyi huruf Arab ‘ain. Sehingga, ada orang Jawa yang namanya Sangidu (dari Sayyidu), Sangit (dari Sayyid), Fatongah (dari Fathonah). Ayat Kursi yang dikenal luas ampuh untuk mengusir segala macam godaan juga disebut. Kidung itu diyakini begitu ampuh, hingga jika dibaca di laut, air laut pun mengering (segara asat). Mungkin berlebihan. Tapi, itulah yang tertulis dan dipercaya banyak orang untuk mencapai keselamatan hidup.
Tapi keampuhan atau kesaktian itu akan mewujud jika yang menyanyikan kidung itu menjalani laku tertentu, seperti berpuasa “mutih” (makan nasi putih tanpa garam), berpuasa selama 40 hari dan kidung itu disenandungkan pada malam hari tatkala sunyi-sepi. Artinya, pelantun harus menjalani “laku”, seperti berpuasa dan mengurangi tidur.
Sunan Kali juga mengenalkan Allah, sebutan Tuhan dalam bahasa Arab, bahasa yang dipakai Al Quran. Orang Jawa sebelummya sudah mempunyai beberapa sebutan untuk Tuhan, seperti Pangeran, Gusti Pangeran, Hyang Widhi Wasa, Hyang Kang Murbeng Dumadi, Gusti Kang Maha Kuwasa, Hyang Tunggal (nama dewa dalam pewayangan), Hyang Suksma Kawekas dan setelah Islam masuk, yang sering digunakan adalah Gusti Allah. Beberapa sebutan itu dipakai Sunan Kali. Maksud dari berbagai sebutan nama Tuhan itu adalah sama, yakni Yang Satu, Yang Tunggal, Yang Maha Esa itu seperti disebut dalam Suratul Kulhu. (Bersambung)



