SUBANG, (KBK) – Ada yang berbeda di kebun Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa. Jika wajarnya kebun dipenuhi dengan kegiatan perawatan tanaman, siang itu justru diramaikan oleh para ibu-ibu yang hilir mudik memburu buah naga.
Sambil membawa keranjang lengkap dengan gunting pemetik ditangan kanan, rombongan ibu-ibu itu tak henti-hentinya melontarkan pertanyaan kepada petani penerima manfaat terkait karateristik buah. Diantara mereka tak sedikit juga yang berswafoto sembari memandang sang “buah merah”.
Tawa dan keriangan semakin terasa hangat ketika rombongan menengok kandang domba hias yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari lokasi kebun. Postur domba yang gagah dengan tanduk melengkung seperti menyihir para tamu yang tiba-tiba langsung membentuk antrian untuk berfoto.
Itu lah dia sepenggal kehangatan para donatur Dompet Dhuafa saat mengikuti kegiatan Care Visit di Kebun Berdaya Indonesia, Cirangkong, Cijambe, Subang, Jawa Barat, Sabtu (18/3). Desa Cirangkong yang terletak dipelosok perbukitan merupakan desa perdana di sekitaran Subang yang dibangkitkan ekonominya melalui program wakaf produktif Dompet Dhuafa.
Di atas lahan kurang lebih 5 hektar, para petani yang notabene keluarga kurang mampu diberdayakan. Direktur Dompet Dhuafa Republika Ismail A Said mengatakan selain memelihara domba dan menanam berbagai komoditi seperti buah naga, nanas, pisang dan kacang-kacangan dalam waktu dekat Dompet Dhuafa juga bakal mendirikan pabrik pengolahan nanas.
“Pertama saya lihat ada masalah di harga jual nanas yang membuat petani sulit sejahtera. Meski tanah kita kecil tapi dengan dibantu teman-teman petani insa Allah bisa jadi besar,” ujar Ismail dalam paparannya di Saung Berdaya, Subang, Sabtu (18/3).
Ismail menuturkan Dompet Dhuafa yang konsen dengan konsep wakaf produktif membuat banyak muzaki berminat mewakafkan hartanya karena terasa manfaatnya secara sifnifikan bagi petani lokal. Dengan wakaf produktif setidaknya Dompet Dhuafa bisa membantu penduduk miskin yang jumlahnya masih di angka 35 juta.
“Saya yakin 25 juta diantaranya muslim untuk itu ayo kita sama-sama donasikan rezeki kita untuk kesejahteraan bersama,” jelasnya.
Muklis salah seorang muzaki yang mewakafkan tenaganya untuk membuat desain mesin pengolahan pabrik nanas mengungkapkan guna mensejahterakan petani nanas dibutuhkan langkah hingga produk bisa diolah, sehingga harga jual dapat stabil.
“Untuk itu kami merancang pabrik dengan mesin yang bisa mengolah nanas, mangga, jambu biji, sirsak dan cabai di satu mesin yang sama. Jadi jika nanas belum masuk masa panen, petani bisa coba dengan komoditi lain yang bisa diolah di pabrik ini nanti,” ucap Muklis.
Di pabrik tersebut dikatakan Muklis nanas dapat di olah menjadi 2 produk, selai dan konsentrat.
“Pasar selai di Indonesia mencapai 5 ribu ton per tahun. Hampir semua pabrik roti membutuhkan selai nanas. Karena selai nanas bisa mendorong rasa friut dalam suatu makanan,” tambah Muklis.
Muklis optimis dengan dukungan teknologi dalam rangka mengoptimalkan produk nanas milik petani Subang, masyarakat Cirangkong bisa berdaya dan mandiri dalam menjemput kesejahteraan.
Camat Cijambe Udin Jajudin mengaku takjub dengan program pemberdayaan berbasis wakaf produktif Dompet Dhuafa. Menurut Udin baru 1 bulan Dompet Dhuafa tiba di Kecamatan Cijambe sudah melakukan perubahan dengan program THK 70 ekor domba.
“Terkait pendirian pabrik pengolahan nanas saya mendukung penuh. Di satu sisi di tahun 2017 ini saya juga bakal membuat akses jalan menjadi lebih nyaman untuk dilewati,” ujarnya.





