Tragedi Kemanusiaan Akibat Perang di Mosul

Ilustrasi serangan udara AS (the Guardian)

ENTAH dimana hati nurani para elite pihak-pihak yang terlibat pertikaian  berdarah di Irak menyaksikan jatuhnya begitu banyak korban penduduk sipil dalam kampanye perebutan kota tua di Mosul barat pekan lalu .

Ratusan orang tewas akibat serangan bom atau tertimbun bangunan yang roboh di kota tua di Mosul barat akibat serangan udara pesawat-pesawat tempur koalisi pimpinan AS (17/3) dan perang kota antara satuan reguler Irak melawan milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Paling tidak, Jumat pekan lalu sekitar 200 jasad ditemukan dari reruntuhan bangunan, menambah sekitar 3.900 korban tewas yang dilaporkan sejak dilancarkannya operasi pembebasan kota bersejarah itu pada 19 Februari lalu.

Lembaga pemantau Irak yang dikutip harian Asharq al-Awsat  mengungkapkan, sekitar 10.000 dari seluruhnya sekitar 487.000 bangunan di kawasan Mosul barat luluh-lantak dilanda pertempuran, sementara sampai sekitar 400.000 penduduk kota tua Mosul barat masih terperangkap di kawasan itu.

Belum dipastikan penyebab tewasnya ratusan penduduk di distrik baru Mosul barat, apakah akibat bom-bom atau roket yang dijatuhkan dari udara atau akibat meledaknya  truk bermuatan penuh amunisi milik NIIS yang kemudian meluluh-lantakkan bangunan di sekitarnya.

Yang pasti, sebagian besar jenasah ditemukan di reruntuhan bangunan dan diperkirakan masih banyak lagi yang belum berhasil dievakuasi, sementara pimpinan koalisi AS dilaporkan akan menginvestigasi penyebab jatuhnya begitu banyak korban dalam serangan udara yang dilancarkannya.

Pasca serangan maut itu pasukan pemerintah Irak menghentikan sementara upaya merebut bagian barat kota Mosul, kemungkinan dengan tidak lagi mengandalkan pesawat tempur dan gempuran artileri berat, tetapi menurunkan pasukan elite anti teror (CTS).

Medan berat                                         

Satuan Irak dibantu pasukan AS walau didukung peralatan tempur canggih menghadapi medan berat untuk merebut kota tua Mosul yang arsitekturnya berupa susunan bangunan berhimpitan, lorong-lorong atau gang sempit yang sebagian hanya bisa dilintasi manusia.

Dukungan pesawat atau helikopter tempur ternyata kurang efektif dalam pertempuran dari rumah ke rumah atau dari gang-gang sempit menghadapi milisi NIIS yang tampaknya lebih andal dalam perang kota jarak dekat.

Kemungkinan Irak akan menurunkan satuan elit kontra teroris (CTS) bentukan AS yang dianggap berhasil membebaskan bagian timur kota Mosul dari cengkeraman milisi NIIS Januari lalu melalui pertempuran sengit selama sekitar empat bulan.

Selain ancaman terkena bom atau peluru nyasar, ribuan penduduk yang terperangkap konflik di kota tua, Mosul barat, menurut laporan Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR)  juga terancam kematian akibat kelaparan dan kedinginan.

Di malam hari kondisi mereka lebih mencekam, karena mengalami gelap gulita karena terputusnya pasokan aliran listrik. Untuk mengusir hawa dingin, sebagian warga membakar perabot rumah yang mudah terbakar sebagai pengganti  alat pemanas.

Grup relawan Medecins Sans Frontieres (Dokter Tanpa Batas – MSF) yang mendirikan pusat layanan pemberian makanan sehat di RS Qayyarah, Mosul melaporkan, ratusan anak mengalami gizi buruk dan malnutrisi akibat kurangnya pasokan susu, makanan dan air bersih.

Pasukan pemerintah Irak dilaporkan sedang menghimpun satuan-satuan  baru, kemungkinan memanfaatkan cuaca buruk untuk bergerak kembali merebut kota tua di Mosul termasuk masjid Agung al-Nuri –  lokasi pernyataan proklamasi negara Khilafah oleh pimpinan NIIS Abu Bakar al-Baghdadi – pada Juni 2014.

Jika tidak ada terobosan signifikan untuk mengakhiri konflik Irak, korban rakyat sipil akan terus berjatuhan menjadi tumbalnya. PBB dan masyarakat internasional harus segera turun tangan. (AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

Advertisement