Tertolong di Detik Terakhir Pemberkasan Lamaran

Audy Alif Putera

JAKARTA – Alif, pemuda 19 tahun, merenung sendiri diatas sajadah tempat ia memanjatkan doa pada sang Khalik selepas shalat. Perasaannya cemas bercampur rasa takut. Pasalnya hari itu merupakan saat dimana ia harus segera melengkapi satu persyaratan untuk bisa bekerja di Perusahaan ritel Minimarket tempat ia melamar pekerjaan. Alif memiliki waktu hingga, Sabtu 8 April, untuk segera melengkapi ijazah. Jika tak dipenuhi maka ia dinyatakan gugur.

“Sudah bu jangan dipaksakan kalau memang belum ada, nanti saya cari kerja yang lain lagi,” ujar Pemuda bernama lengkap Audy Alif Putera kepada ibunda, Siti Nurjanah (40), dengan perasaan getir.

Ayah Alif, Endranawan (41), sudah genap tiga minggu, meninggalkan keluarga merantau kerja ke luar kota tanpa ada kabar apapun darinya. Praktis, hal itu membuat Siti menjadi penanggung jawab bagi nafkah kedua anaknya. Demi mencukupi kebutuhan hidup ia dan keluarga, Siti bekerja menjadi kuli cuci dan berjualan keripik balado produksi tetangga, yang kemudian hasilnya ia setorkan.

Dalam benak Alif, ia ingin membantu menggantikan peran ibu yang mengemban sebagai kepala keluarga, apalagi Shafira, sang adik, masih mengenyam pendidikan SD. Maka dari itu, jika ia sudah bekerja, ia bertekad akan membantu ibu dan pendidikan si bungsu.

“Pengennya ibu dirumah aja. Apalagi ibu juga sedang sakit. Mudah-mudahan ada jalan buat dapatkan ijazah itu,” harap pria kelahiran Surabaya ini.

Tak butuh waktu lama, mendengar infromasi yang didapat dari relawan Dompet Dhuafa, LPM Dompet Dhuafa melalui program Tebus Ijazah mewujudkan keinginan Alif agar segera bisa bekerja dan melengkapi persyaratan tersebut kepada Perusahaan. Pada Jumat, 7 April, Dompet Dhuafa telah melunasi seluruh tunggakan yang dimilikinya.

“Terima kasih buat para dermawan semua, semoga kemudahan dan keberkahan hidup selalu didapat dari Allah SWT,” ujar Siti dan Alif meneteskan air mata bahagia. – Rifky Reynaldi

Advertisement