Tawanan Pilot Ditukar Jalan By Pass

S. Sinansari ecip

Sukarno adalah presiden Indonesia yang berdiri kokoh dalam percaturan internasional pada zamannya. Dunia sedang terlibat dalam apa yang disebut Perang Dingin. Ada dua blok yang diam-diam (dingin) berseteru, Blok Timur (Uni Soviet dkk) dan Blok Barat (Amerika Serikat dkk). Perseteruan bisa setiap saat meledak menjadi perang panas.

Dengan tokoh-tokoh antara lain, Gamal Abdul Nasser, Nehru, dan M Ali (Pakistan), Soekarno berkoordinasi. Negara-negara yang masih dijajah dikumpulkan untuk diperjuangkan nasibnya. Berlangsunglah Konferensi Asia Afrika di Bandung. Tidak berapa lama kemudian perjuangan diperlebar dengan mengumpulkan negara-negara yang baru muncul. Lahirlah Conefo, New Emerging Forces.

Dalam posisi seperti itu, Indonesia tidak lagi dipandang dengan sebelah mata di dunia internasional. Soekarno dengan enak berkomunikasi dengan Amerika. Banyak perwira mudanya sekolah di Amerika. Pembelian senjata yang sempat terhenti, Amerika mencairkannya. Dengan Uni Soviet, Indonesia mendapat bantuan alat-alat tentara (pesawat tempur mig, kendaraan perang jenis jeep yang bernama gaz, senjata jenis AK, dll)

Apa itu Jalan By Pass? Jalan By Pass adalah nama jalan yang memotong (menjadi lebih dekat) jarak antara Cawang dan Tanjung Priok. Namanya kemudian Jl. A. Yani, Jakarta Timur. Sekarang ini, di atas jalan by pass itu sudah didirikan oleh perusahaan Mbak Tutut jalan susun/layang dengan tiang-tiang besar pendukung yang menghunjam ke dalam bumi. Kelahiran jalan pintas ini sangat menarik.

Sementara itu, setelah Permesta berdiri, sebuah pesawat sewaan berangkat dari pangkalan Mapanget di Sulawesi Utara menuju Ambon. Pesawat ini akan menyerang sasaran-sasaran penting di Ambon. Pilot kurang menduga, tentara Indonesia cukup mempersiapkan diri.

Dia membawa Bomber B-26 lalu mendapat perlawanan seru dari bawah. Sebuah pesawat Mustang yang dipiloti Kapten Dewanto, mengejarnya. Baik tembakan dari bawah maupun tembakan Dewanto diklaim mengenai pesawat bomber. Pesawat terbang yang kena peluru segera menukik ke bawah dan terbakar. Penerbangnya, Allan Pope dan operator radio bernama Rantung, ditangkap dalam keadaan hidup.

Pope rupanya agen rahasia CIA yang handal, banyak terlibat dalam operasi CIA. Dalam kasus penyerangan terhadap benteng Dien Bien Phu milik Perancis di Vietnam Utara, nama Pope juga disebut-sebut. Benteng kuat itu dikalahkan oleh Viet Cong.

Kedua awak yang jatuh tersebut diadili. Pope dijatuhi hukuman mati, Rantung dihukum 15 tahun. Konon dalam menjalankan hukuman tersebut, keduanya pernah diketahui tinggal di villa di Yogya.

Amerika minta penerbang itu dikembalikan dalam keadaan hidup. Mungkin Sukarno beranggapan tidak terlalu penting menawan dan menyimpan seorang pilot. Presiden JF Kennedy mengutus saudaranya, Jaksa Agung Robert Kennedy ke Indonesia. Dia ditemani isteri Pope, yang konon cantik. Perundingan menjadi lancar.

Presiden lalu mengajukan syarat, minta dibuatkan Jalan By Pass tersebut. Itu jalan terbaik di Indonesia pada periode waktu tersebut, mulus dan kuat. Indonesia tidak mengeluarkan biaya. Jadi, Jalan By Pass dibuat sebagai hasil tawar menawar Presiden Sukarno dan Amerika Serikat.

Dalam buku yang ditulis Greg Poulgrain (The Incubus of Intervention, Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles, yang saya sebut dalam tulisan sebelum ini, Permesta dan PRRI adalah gerakan pernyataan tidak puas karena tidak adanya perimbangan pembagian kuwe daerah dan pusat secara baik. Intervensi AS menjadikan ketakpuasan itu meningkat sebagai pemberontakan PRRI dan Permesta.

Adanya serangan pesawat dari luar negeri dan pengiriman senjata ke Sumatra, menunjukkan bukti Amerika Serikat memang terlibat dalam pergerakan di dua daerah tersebut. Intervensi AS dalam kaitan PRRI-Permesta, dapat diartikan sebagai pengembangan operasi yang dilakukan Dulles (bos CIA) untuk menjatuhkan Presiden Sukarno. (**)

Advertisement