LONDON—Perubahan iklim yang mengakibatkan kekeringan ekstrim di sejumlah negara Afrika dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok milisi di sana. Mereka mengeksploitasi kelangkaan air dan minimnya bahan makanan untuk mengendalikan warga. Mereka melakukan rekrutmen dengan iming-iming kebutuhan dasar tersebut.
Temuan ini disampaikan sebuah lembaga riset yang berbasis di Berlin pada Kamis (20/4) kemarin. Kelompok milisi yang berafiliasi dengan ISIS dan Al Qaedah seperti Boko Haram dan Al Shabab menggunakan momentum krisis ini untuk meluaskan sayap operasi mereka.
“Daerah yang rentan bisa ditarik ke dalam lingkaran setan, yang menyebabkan bangkitnya kelompok teroris yang merasa lebih mudah beroperasi, dengan konsekuensi bagi kita semua,” kata Lukas RĂĽttinger, penulis laporan tersebut, dalam sebuah pernyataan.
Perubahan iklim telah mengeringkan wilayah Danau Chad, sehingga meningkatkan persaingan untuk untuk mendapatkan air, termasuk oleh. Lebih dari 2,4 juta orang merasakan dampaknya, kehilangan sumber air.
Laporan itu juga menyajikan, dampak kekeringan ini juga menyebabkan sejumlah negara di Afrika harus berjuang keras memertahankan legitimasi mereka. Mereka harus terbelah konsentrasi, antara menyediakan bantuan untuk rakyatnya, dengan menyelesaikan masalah sparatisme.





