Diakui sebagai Muslim itu gampang. Cukup dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat, sebuah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah.
Kalimat Syahadat diucapkan dua kali untuk menandai peristiwa paling bersejarah dalam hidup orang Islam Jawa. Pertama, waktu anak laki-laki dikhitan (disunat) dan kedua, saat akad nikah (calon mempelai wanita juga mengucapkan).
Sunat dalam bahasa Jawa adalah âselamâ (alih bunyi dari kata Islam?). Disunat bahasa Jawanya âdipun selamakenâ. Maksudnya, di âIslamâkan. Sebelum kulit ujung alat kelamin dipotong (dibuka), tukang sunat membimbing sang anak untuk mengucapkan kalimat Syahadat.
Sunatan adalah peristiwa besar bagi sang anak dan orang tuanya. Tergantung kemampuan finansial keluarga, sunatan sering dirayakan sebagai hajatan yang dimeriahkan dengan hiburan kesenian. Umumnya, pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Lakonnya, salah satu episode kisah Ramayana dan Mahabarata, yang berasal dari agama Hindu.
Islam, karena sunat dan nikah oleh Clifford Geertz, anthropolog, Indonesianis dan peneliti terkemuka dari Amerika Serikat, dikategorikan sebagai Islam minimal atau abangan. Maksudnya, Muslim yang tidak taat menjalani rukun Islam, terutama sholat lima waktu sehari-semalam. Muslim yang taat beribadah digolongkan santri atau Putihan.
Geertz dalam bukunya âThe Religion of Javaâ (1960), hasil penelitian sebelumnya di desa Mojokuto, Pare, Kediri, Jawa Timur, menggolongkan penduduk desa itu dalam trikotomi: santri, abangan dan priyayi. Karena abangan dan priyayi dianggap banyak persamaannya, yang menonjol adalah dikotomi santri dan abangan.
Abangan mengamalkan Islam bercampur dengan tradisi Hindu, Budha, animisme dan terlibat dalam kegiatan seni-budaya lokal. Santri dianggap Islam yang lebih taat. Dikotomi ini dikritik sejarawan Hodgson sebagai mengandung kesalahan sistematik besar.
Geertz adalah perintis dalam studi perbandingan masyarakat Islam. Setelah meneliti masyarakat Islam di Maroko, ia menulis âIslam Observed: Religious Development in Morocco and Indonesiaâ (1968). Buku ini mengungkapkan, masyarakat Islam sekalipun terikat keimanan-keislaman yang sama, dalam pengejawantahan religio-socio-kultural terlihat ada perbedaan tertentu.
Islam di Maroko dianggap lebih âskriptualistikâ, sedangkan Islam di Jawa lebih akomodatif. Islam Jawa dipandang Islam pinggiran (feriferial), sementara Islam di Timur Tengah dipandang sebagai âIslam Murniâ dan Islam Pusat.
Prof. Dr. Azyumardi Azra, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam pengantarnya untuk buku âMemahami Islam Jawaâ karya Prof. Dr. M(uhammad) Bambang Pranowo menghargai Geertz. Tapi, dikotomi itu tidak bisa ditrapkan begitu saja dalam kurun waktu panjang untuk Islam Jawa, apalagi Islam Nusantara. Alasannya, Islam Nusantara mengalami dinamika.
Menurut Azyumardi, di Maroko dan Jawa terdapat Muslim skriptualistik dan juga Islam mistik, yang lebih menekankan spiritualisme Islam dalam bentuk tawawuf dan tarekat. Studi itu menunjukkan tidak ada masyarakat Islam yang dianggap paling murni, paling Islam, Muslim yang jelek atau kurang Islam.
Prof. Bambang Pranowo, orang Jawa tulen, menyebut dikotomi itu sebagai penyederhanaan berlebihan (oversimplifikasi). Ia menyerukan pengkajian ulang kategori abangan, santri dan priyayi itu. Bukunya adalah hasil penelitiaan intensif selama kurun waktu 1985-1987 di desa Tegalroso, dekat Magelang, untuk disertasi gelar doktornya di Monash University, Australia.
Bambang Pranowo mengungkapkan proses dinamika Islam Jawa dari abangan menjadi santri. Salah satu buktinya, kini banyak masjid megah dan kegiatan keislaman rutin di pedesaan Jawa yang dulu dicap sebagai daerah abangan, bahkan basis PKI.



