MYANMAR – Kedua kalinya Myanmar menutup sebuah kamp pengungsi yang menampung pengungsi keluarga Buddha di negara bagian Rakhine, Myanmar, pada Kamis (11/5/2017).
Sebelumnya, pihak berwenang mulai memindahkan 65 rumah tangga etnis Rakhine dari kamp Ka Nyin Taw di bagian selatan Rakhine ke desa terdekat Pyin Phyu Maw akhir bulan lalu.
Administrator Kotapraja Kyauk Phyu, Nyi Nyi Lin, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa kamp tersebut benar-benar tertutup. “Relokasi orang-orang terlantar di kamp sekarang sudah selesai,” katanya.
Dilanjutkannya jika pemerintah daerah menyediakan para pengungsi tanah, rumah dan bantuan lainnya, tambahnya, juga berencana memberikan pinjaman kecil agar para pengungsi bisa memulai kembali pekerjaan mereka.
Penutupan kamp merupakan langkah untuk memindahkan sekitar 120.000 orang, yang direkomendasikan sebuah komisi yang dipimpin oleh mantan kepala PBB Kofi Annan, yang menyarankan penutupan tiga kamp.
Yang pertama, sebuah kamp di Ramree yang menampung 55 keluarga Muslim Kaman dan sudah ditutup bulan lalu. Sebagian besar dipindahkan ke kota terbesar Myanmar, Yangon.
Sementara kamp Kyein Ni Pyin, di mana 215 rumah tangga Muslim Rohingya telah berlindung selama hampir lima tahun, belum ditutup dan masih dalam perencanaan.
Sejak pertengahan 2012, kawasan ini telah melihat serangkaian insiden kekerasan komunal antara umat Buddha Rakhine dan Rohingya yang telah menyebabkan sekitar 100 orang tewas dan sekitar 120.000 orang mengungsi di kamp yang sebagian besar anggota minoritas Rohingya.
Myanmar telah lama menghadapi kecaman internasional karena penganiayaan terhadap minoritas Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.
Kekerasan baru meletus di Rakhine Oktober lalu setelah sembilan polisi perbatasan terbunuh. Menurut PBB, pasukan keamanan kemudian melakukan pelanggaran luas terhadap Rohingya.
Kekejaman ini termasuk pembunuhan anak-anak dan bayi, perkosaan, pemukulan, pembakaran desa dan penghilangan.





