Ramadhan Mengakrabkan Muslim Roma

Ilustrasi / Ist

Inilah kota Roma, kota bersejarah yang meninggalkan banyak bukti peradaban. Bangunan kokoh masih banyak berdiri, menandakan kecerdasan. Ribuan tahun sebelum Islam, peradaban Romawi sudah berdiri. Bahkan, Alquran mengabadikannya dengan nama surat, Ar Rum.

Denyut kehidupan Roma tak pernah mati. Lalu lalang manusia dan kendaraan silih berganti, siang dan malam. Sebagai destinasi wisata utama di Eropa, ribuan pelancong dari mancanegara memenuhi tiap sudut kota. Terlebih saat musim panas.

Beruntung sekali saya bisa mendapatkan kesempatan, menginjakkan kaki dan menyaksikan kemegahan Roma. Saya mengemban tugas untuk berdakwah, menyampaikan pesan kebaikan Islam yang rahmatan lil alamin. Selama bulan Ramadhan, saya tinggal di wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Gedung KBRI yang terdiri dari empat laintai ini dibeli pada tahun 1952 oleh presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Wisma yang saya tempati berada di lantai 2 gedung yang letaknya di tengah kota Roma. Di bangunan bergaya khas Eropa ini fasilitasnya cukup lengkap dan menyenangkan, sehingga kita tidak merasa bosan meski berada di dalam sebuah kantor.

Islam di Roma memang minoritas. Hikmahnya, hubungan sesame muslim di kota ini terjalin sangat akrab. Di Roma pun terdapat masjid yang cukup besar. Masjid yang dibangun oleh negara-negara Islam ini selesai pada tahun 1995. Konon, masjid yang gaya arsitekturnya memadukan Roman dan Islam ini merupakan masjid terbesar di daratan Eropa.

Umat Islam di Roma pun sangat antusias dalam menjalani ibadah, terlebih di bulan Ramadhan. Khusus untuk kalangan muslim Indonesia, setiap tahun ada ustadz atau mubaligh yang didatangkan untuk membimbing agama para diplomat dan masyarakat.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan di Roma

Kegiatan Ramadhan juga sangat semarak, ada pengajian selepas zuhur, kajian khusus kaum ibu yang diadakan setiap Rabu dan Jumat, pengajian anak, hingga buka puasa bersama. Karena puasa tahun ini jatuh di musim panas, durasiny cukup lama. Sedikitnya 18 jam warga muslim di Roma harus menjalani puasa. Dimulai dari Subuh pukul 3.30 dini hari, baru berbuka pada 20.39 malam. Cuacanya juga sangat terik, yakni 27 derajat.

Pengajian dan buka bersama digelar bergantian. Kadang di mushala kantor, rumah warga muslim Indoensia, atau tempat lainnya. Bahkan melintasi kota seperti Milan dan kota-kota lainnya. Tentu saja acara “kumpul-kumpul” seperti ini sangat diminati. Karena di sinilah ajang silaturahmi warga negara masyarakat Indonesia dengan berbagai lapisan. Mahasiswa, karyawan, diplomat, dan sebagainya.

Untuk persatuan muslim Indonesia di Roma, ada  organisasi yang mewadahinya, yaitu NUR kepanjangan dari Nadwah Ukhuwah Roma. Kebersamaan selalu terlihat meskipun tertutup oleh gerbang pintu kantor yang selalu terkunci kuat dari dalam.

Demikianlah keberadaan dan kebersamaan Muslim Indonesia di Roma, semoga selalu kuat mempertahankan persaudaraan dan dapat membanggakan Indonesia di mata dunia umumnya dan di Eropa khususnya.

 

Khumaini Rosadi

Dai Ambassador Dompet Dhuafa 2017

Advertisement