ILLIGAN–Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) melaporkan, ada 50 ribu anak-anak yang mengungsi akibat konflik bersenjata di Kota Marawi, Mindanau Filipina. Dalam laporan yang dipublikasikan Rabu (31/5/2017), UNICEF juga menyampaikan, seorang anak juga menjadi korban jiwa dalam konflik tersebut.
Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) mengonfirmasi, 19 warga sipil tewas oleh anggota kelompok Maute, yang menyerang kota tersebut pada tanggal 23 Mei. Pada hari yang sama, Presiden Rodrigo Duterte menempatkan seluruh Mindanao di bawah darurat militer.
Namun, UNICEF menghitung ada 24 korban jiwa warga sipil. Dalam pernyataannya, UNICEF meminta pasukan pemerintah untuk menjamin keamanan anak-anak di kota yang dikepung tersebut.
UNICEF meminta, layanan dasar untuk anak seperti kesehatan, gizi, air, dan sanitasi tidak boleh diabaikan. “Juga dukungan pemulihan psikososial untuk membantu mereka kembali normal,” demikian pernyataan yang dilansir GMA Network.
“Kami sangat prihatin dengan tindakan yang dapat membahayakan kehidupan anak-anak dan mengganggu perkembangan mereka atau akses terhadap layanan sosial dasar seperti pendidikan dan perawatan kesehatan,” ujar perwakilan UNICEF Filipina Lotta Sylwander.





